Kabut Asap Makin Tebal, Warga Kaltim Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 20:31 WIB
WASPADA ASAP: Kabut asap menyelimuti beberapa wilayah di Kaltim, seiring memburuknya kualitas udara, Kamis (17/9). Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan kegiatan fisik berat, serta menggunakan masker N95 atau KN95 jika harus beraktivitas di luar. (Nasya/KP)
WASPADA ASAP: Kabut asap menyelimuti beberapa wilayah di Kaltim, seiring memburuknya kualitas udara, Kamis (17/9). Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan kegiatan fisik berat, serta menggunakan masker N95 atau KN95 jika harus beraktivitas di luar. (Nasya/KP)

SAMARINDA – Kabut asap yang kian pekat di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya mengganggu jarak pandang. Kondisi itu juga meningkatkan potensi pajanan masyarakat terhadap partikulat halus, terutama PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Dosen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman, Ida Ayu Indira Dwika Lestari, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan kesehatan untuk melakukan perlindungan.

“Kalau asap saat ini semakin tebal, berarti yang perlu kita waspadai adalah semakin besarnya potensi pajanan masyarakat terhadap partikulat halus dari asap kebakaran, terutama PM2.5,” ujarnya.

Menurut Ida, ukuran PM2.5 yang sangat kecil memungkinkan partikulat tersebut terhirup hingga bagian dalam paru-paru. Semakin lama seseorang berada di tengah udara tercemar, semakin besar pula potensi pajanan yang diterima.

Kondisi kualitas udara di sejumlah daerah Kaltim dalam beberapa pekan terakhir turut menjadi perhatian. Di Samarinda, kualitas udara pada Kamis (17/9) tercatat mencapai 170 AQI US dengan PM2.5 sebagai polutan utama. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Penerbangan, 143 Penumpang Tujuan Palangka Raya Tertahan di Balikpapan

Dampaknya mulai berpengaruh terhadap aktivitas pendidikan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada 17–19 September akibat memburuknya kualitas udara.

Ida mengatakan langkah paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat ketika asap semakin pekat adalah mengurangi pajanan. Aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan kegiatan fisik berat, sebaiknya dikurangi.

Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik. Saat berada di dalam rumah, pintu dan jendela juga sebaiknya ditutup ketika konsentrasi asap sedang tinggi.

Penggunaan air purifier, jika tersedia, dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

“Prinsip utamanya adalah kurangi pajanan, pantau kualitas udara, dan lindungi kelompok yang paling rentan. Jangan menunggu sampai muncul keluhan baru melakukan tindakan perlindungan,” jelasnya.

Kelompok yang membutuhkan perhatian lebih antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Imbauan serupa disampaikan Dinas Kesehatan Samarinda. Kepala Dinkes Samarinda dr Ismid Kusasih meminta masyarakat mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Anak-anak, terutama balita, lansia, penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penderita penyakit jantung, serta ibu hamil termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati.

Namun, menurut Ida, persoalan kabut asap tidak cukup ditangani pada level individu. Pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi kepada masyarakat perlu dilakukan lebih intensif agar keputusan membatasi aktivitas didasarkan pada kondisi udara, bukan semata-mata ketebalan asap yang terlihat.

Langit yang terlihat lebih cerah, kata dia, tidak selalu berarti kualitas udara sudah aman. Konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti sumber kebakaran, arah angin, curah hujan, dan kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memantau indikator kualitas udara.

Besarnya pajanan juga tidak hanya ditentukan oleh konsentrasi polutan. Durasi dan frekuensi seseorang berada di udara tercemar turut memengaruhi tingkat pajanan.

Pekerja luar ruang, misalnya, memiliki risiko pajanan berbeda dengan masyarakat yang hanya berada di luar rumah selama beberapa menit. Pedagang kaki lima, pengemudi ojek daring, pekerja konstruksi, petugas kebersihan hingga petugas pemadam dapat berada di tengah udara tercemar selama berjam-jam.

Karena itu, ketika kualitas udara terus memburuk, perlindungan perlu diperluas ke lingkungan sekolah dan tempat kerja. Aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak dapat dikurangi atau dijadwal ulang. Pekerjaan berat di luar ruangan juga dapat disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.

“Pemantauan kualitas udara dan informasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara lebih intensif, sehingga masyarakat tahu kapan harus membatasi aktivitas di luar,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
dampak kabut asap Kabut Asap Kaltim kualitas udara Samarinda