Lulusan Tenaga Pendidik Terus Bertambah, Jalur Jadi Guru Belum Jelas

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 20:17 WIB
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UINSI Samarinda Rega Armella.
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UINSI Samarinda Rega Armella.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Lulusan pendidikan terus bertambah setiap tahun. Namun, pertambahan tersebut belum otomatis diikuti kepastian lapangan kerja sebagai guru. Hal tersebut diakui Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UINSI Samarinda, Rega Armella.

Dia menilai persoalan utama bukan semata jumlah lulusan, melainkan kesesuaian kebutuhan guru dengan bidang studi serta akses lowongan kerja.

Menurut Rega, saat ini sekolah yang membutuhkan guru belum tentu membuka lowongan pada waktu yang sama dengan kelulusan mahasiswa. Selain itu, bidang studi yang dibutuhkan juga belum tentu sesuai dengan kompetensi lulusan.

“Menurut saya, lulusan pendidikan setiap tahun bertambah, sementara kesempatan menjadi guru belum tentu tersedia saat mereka lulus. Ada sekolah yang membutuhkan guru, tetapi belum tentu membuka lowongan atau membutuhkan bidang studi yang sesuai dengan lulusan,” ujarnya perempuan yang menjabat Koordinator Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) FTIK UINSI Samarinda tersebut.

Baca Juga: Lulusan Pendidikan Melimpah, Kaltim Tetap Kekurangan Guru

Karena itu, jumlah lulusan pendidikan tidak bisa langsung disebut berlebihan. Menurut dia, kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan program studi dan kebutuhan tenaga pendidik di masing-masing sekolah maupun wilayah.

Persoalan lain yang turut memengaruhi pilihan lulusan adalah kondisi kerja guru, terutama bagi tenaga non-ASN. Penghasilan yang rendah dan ketidakjelasan jalur karier dapat menjadi pertimbangan ketika lulusan menentukan profesi setelah menyelesaikan pendidikan.

Rega menilai, memilih pekerjaan lain setelah lulus pendidikan tidak selalu berarti lulusan meninggalkan bidang yang dipelajarinya. Keputusan tersebut juga dapat menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mencari kepastian masa depan.

“Realitas tersebut bisa memengaruhi minat lulusan pendidikan untuk menjadi guru dan menurut saya hal tersebut sangat wajar sebagai bahan pertimbangan memilih jurusan tertentu. Mereka tentu mempertimbangkan bukan hanya profesi sebagai guru, tetapi juga apakah penghasilannya cukup dan jalur kariernya jelas,” jelasnya.

Baca Juga: Tak Harus Jadi Guru, Lulusan Pendidikan Didesain ke Beragam Sektor

Ia menyinggung hasil survei Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada 2024 yang menunjukkan persoalan rendahnya penghasilan guru honorer. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu realitas yang perlu diperhitungkan dalam melihat pilihan karier lulusan pendidikan.

Di sisi lain, persaingan kerja juga semakin terbuka dengan adanya lulusan non-kependidikan yang masuk ke profesi guru. Rega menyebut kondisi tersebut dapat memperketat persaingan, terutama ketika jumlah lowongan terbatas.

Namun, ia menilai persoalannya bukan sekadar latar belakang pendidikan. Kesesuaian bidang keahlian dan kemampuan pedagogik tetap perlu menjadi pertimbangan dalam proses rekrutmen. “Lulusan non-kependidikan yang bidang ilmunya sesuai tetap perlu menunjukkan kemampuan mendidik yang sesuai,” katanya.

Menurut Rega, guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran. Seorang pendidik juga perlu memahami perkembangan anak, kebutuhan belajar peserta didik, serta mampu membangun suasana kelas yang aman dan menghargai setiap siswa.

Karena itu, mahasiswa pendidikan juga perlu memiliki bekal di luar kompetensi utama bidang studinya. Perkuliahan memang memberikan fondasi teori dan praktik sesuai kurikulum, tetapi menurut Rega, bekal tersebut belum cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang terus berkembang.

Mahasiswa perlu aktif mencari pengalaman melalui organisasi, komunitas, pelatihan, magang, maupun kegiatan lain sesuai minat karier. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, pemecahan masalah, hingga kemampuan digital.

Baca Juga: Berjuang di Tengah Keterbatasan Anggaran, Tim Sepatu Roda Balikpapan Siap All Out di Porprov 2026

“Bekal dari perkuliahan saja belum cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja. Mahasiswa perlu mengembangkan kompetensi dan keterampilan tambahan agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman serta kebutuhan pasar kerja,” tuturnya.

Penguatan keterampilan tersebut juga penting ketika peluang menjadi guru belum tersedia. Lulusan pendidikan juga perlu memiliki pilihan karier yang lebih luas sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu jalur pekerjaan.

Untuk memperjelas masa depan lulusan, ia melihat setidaknya ada empat hal yang perlu dibenahi. Pertama, regulasi, terutama terkait jalur rekrutmen, status kerja, dan perlindungan kesejahteraan guru.

Kedua, pemetaan kebutuhan guru berdasarkan bidang studi dan wilayah. Dengan pemetaan tersebut, kebutuhan tenaga pendidik dapat menjadi dasar rekrutmen sekaligus memberi gambaran lebih jelas kepada calon lulusan mengenai peluang kerja yang tersedia.

Baca Juga: Kuota BBM Harus Ikuti Kebutuhan Warga, Komisi II DPRD Kaltim Minta Data Konsumsi Diperbarui

Ketiga, akses terhadap kesempatan kerja. Informasi lowongan dan proses seleksi perlu terbuka, transparan, serta mudah diakses, termasuk oleh lulusan baru. Keempat, kesiapan perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan. Kampus perlu memperkuat praktik lapangan, kerja sama dengan sekolah dan dunia kerja, serta pendampingan karier.

“Masukan dari alumni dan pengguna lulusan juga perlu digunakan untuk memperbarui kurikulum. Dengan begitu, ada hubungan yang lebih jelas antara lulusan yang disiapkan kampus, kebutuhan di lapangan dan kesempatan kerja yang dibuka pemerintah maupun lembaga lainnya,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
pendidikan Samarinda Sarjana Pendidikan Lowongan Kerja Guru UINSI Samarinda guru honorer