Bukan Cuma Jadi Guru, Uniba Siapkan Lulusan Kuasai Tiga Keahlian Utama

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 16:44 WIB
TALENTA: Mahasiswa Uniba diarahkan agar memiliki setidaknya tiga kemampuan utama setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
TALENTA: Mahasiswa Uniba diarahkan agar memiliki setidaknya tiga kemampuan utama setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perguruan tinggi dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya agar mahasiswa kompeten di bidang pendidikan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.

Rektor Universitas Balikpapan (Uniba) Dr Isradi Zainal mengatakan, perguruan tinggi membekali mahasiswa dengan kemampuan yang lebih luas. Lulusan, termasuk dari program studi keguruan, tidak seharusnya hanya bergantung pada satu pilihan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah atau bidang studinya.

Menurut Isradi, prinsip tersebut sejalan dengan visi Uniba, yakni unggul, mandiri, dan berbudaya. Karena itu, mahasiswa diarahkan agar memiliki setidaknya tiga kemampuan utama setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

"Pada intinya, lulusan itu dipersiapkan untuk, pertama, bekerja di profesinya, yang kedua bekerja di sektor lain, dan yang ketiga adalah mandiri," kata Isradi.

Baca Juga: Kim Jong-un Dilaporkan Obesitas Ekstrem, Pakar Peringatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Ia menjelaskan, bagi mahasiswa yang mengambil bidang keguruan, kemampuan utama tentu tetap diarahkan pada kompetensi sebagai pendidik. Namun, mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan tambahan agar dapat menghadapi dinamika lapangan pekerjaan yang semakin beragam.

"Kalau profesinya misalnya seorang guru, dia harus mampu bersaing dengan siapapun. Akan tetapi, dengan ilmu yang didapatkan, kemudian mereka juga kami bekali semacam kewirausahaan dan lain-lain, banyak pekerjaan di luar guru yang bisa dilakukan dengan pendidikan atau kesarjanaan yang didapatkan," ujarnya.

Menurut Isradi, gelar sarjana tidak semestinya dipahami sebagai tiket untuk menjalani satu jenis pekerjaan saja. Pendidikan di perguruan tinggi, kata dia, memberikan berbagai keterampilan yang dapat dikembangkan untuk memasuki bidang lain.

Ia mencontohkan, lulusan keguruan memiliki kemampuan dasar dalam mengajar yang dapat dikembangkan menjadi berbagai kegiatan produktif. Selain mengajar di sekolah formal, kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memberikan kursus atau pembelajaran secara mandiri.

Baca Juga: Beras Medium dan Telur Ayam Naik, Cabai Rawit Merah Justru Turun di PPU

"Yang paling utama mereka tahu bagaimana cara mengajar. Yang mau diajar ini kan bertambah terus, dari SD, SMP sampai SMA. Dengan pendidikan sarjana, mereka bisa melakukan hal-hal yang secara independen," katanya.

Isradi menilai kemampuan tersebut penting karena kebutuhan dunia kerja terus berubah. Perguruan tinggi, menurut dia, perlu mendorong mahasiswa memiliki diversifikasi keahlian sebagai bentuk manajemen risiko dalam menghadapi persaingan pekerjaan.

"Manajemen risiko itu, jurusan apa pun yang kita miliki, baik guru maupun non-guru, memang harus ada diversifikasi. Harus ada keahlian khusus, di antaranya keahlian selain keahlian utama atau kompetensi yang lebih tinggi," jelasnya.

Keahlian tambahan yang dimaksud antara lain kemampuan bisnis, kemampuan sosial, komunikasi, hingga pembentukan karakter. Isradi menilai kemampuan nonteknis tersebut memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan seseorang di dunia kerja.

"Kami selalu mengatakan kepada mahasiswa kalau mereka jujur, disiplin, dan punya komunikasi yang baik, tidak akan pernah ada kesulitan," ujarnya.

Tantangan lain yang menjadi perhatian adalah penyerapan lulusan keguruan ke dalam dunia kerja. Isradi mengatakan, lulusan yang belum langsung mendapatkan pekerjaan sebagai guru tetap didorong untuk memanfaatkan kompetensi yang dimiliki melalui bidang lain.

Baca Juga: Air Jernih Belum Tentu Aman Dikonsumsi! Ini Cara Cerdas Pilih Depot Air Isi Ulang

"Kalaupun misalnya belum diangkat menjadi guru, dia mesti ada kegiatan lain yang menunjang profesinya," tuturnya.

Ia menegaskan, Uniba tidak ingin mahasiswa hanya terpaku pada satu profesi. Kemampuan yang diperoleh selama kuliah diharapkan dapat menjadi modal untuk membangun kemandirian, termasuk melalui kegiatan usaha.

"Jadi kami mendorong mereka untuk tidak saja bekerja sesuai dengan profesinya. Mereka harus bisa mandiri secara finansial atau misalnya menjadi pengusaha sebagai hal lain. Makanya dibekali materi kewirausahaan," ucap Isradi.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membuka peluang usaha yang jauh lebih luas dibandingkan masa lalu. Seseorang tidak selalu harus memiliki aset besar untuk memulai usaha.

Baca Juga: Program PKM BIMA 2026 UMKT Bekali Kader Dasawisma Pantau Stunting dan Kesehatan Keluarga

"Karena sekarang usaha di zaman digital ini tidak seperti dulu. Kalau mau menjual tidak harus di toko. Kalau mau menjadi pengusaha hotel, tidak harus punya hotel," ujarnya.

Begitu pula dengan bidang jasa. Isradi mencontohkan, seseorang yang ingin menjalankan usaha perjalanan atau penyewaan kendaraan tidak harus memiliki seluruh aset sendiri. "Kalau mau menjadi travel agent, misalnya menyewakan kendaraan, tidak harus punya mobil," timpalnya.

Perubahan tersebut, lanjut Isradi, harus dibarengi dengan perubahan pola pikir mahasiswa. Mereka perlu memiliki motivasi untuk memanfaatkan keahlian yang telah diperoleh selama pendidikan sebagai modal membangun kehidupan setelah lulus.

"Keahlian itu satu hal, tetapi kemandirian itu lain hal. Kami mendorong mereka menjadi punya usaha karena sekarang banyak hal baru yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan era digital," jelasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Dunia Kerja Mahasiswa universitas balikpapan uniba Isradi Zainal kemandirian finansial