KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pengamat Lingkungan Universitas Mulawarman (Unmul), Albert Laston Manurung menyoroti banyaknya pembiayaan yang dikeluarkan pemerintah dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dia menilai, El Nino sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan, namun pemerintah hanya menunggu terjadinya, bukan pada mempersiapkan. Akibatnya, anggaran yang dikeluarkan tidak main-main hanya untuk penanganan di lapangan.
Seakan tidak pernah belajar, Albert menawarkan solusi yang menurutnya lebih murah dan logis. Ketika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengumumkan El Nino akan datang, pemerintah provinsi seharusnya langsung siaga penuh dalam 2-3 bulan jeda waktu tersebut.
Baca Juga: Viral Dugaan Sikap Arogan Walpri Gubernur Kaltim, Polda Ungkap Pelaku Personel Brimob Kaltara
Bukan menunggu api membesar lalu panik merealokasi anggaran dari pos lain untuk membeli alat pemadam. "Semua kekurangan yang terjadi sekarang, kekurangan pangan, penyakit, alat kebakaran, itu siapkan dua atau tiga bulan sebelumnya. Itu masih banyak waktu dan lebih murah,” kata Albert, Selasa (20/10).
Ia juga mengingatkan sulitnya memadamkan karhutla di Kaltim secara teknis. Berbeda dengan di luar negeri yang jalannya sudah beraspal permanen karena dikelola perusahaan, akses jalan di hutan Kaltim masih sangat minim.
Akibatnya, mobil tangki pemadam seringkali tidak bisa mendekati titik api. Belum lagi tantangan tinggi pohon. Pohon meranti di Kaltim kata Albert, rata-rata memiliki tinggi 70-80 meter, bahkan ada yang mencapai 100 meter.
Baca Juga: GMNI Kutim Demo DPRD, Soroti Karhutla, Proyek Mangkrak hingga Tuntut Pencopotan Wapres Gibran
Jika terbakar, lidah api bisa menjulang 15 meter di atasnya. "Kalau itu terbakar, totalnya bisa 115 meter. Siapa yang bisa memadamkan pakai alat apa? Jalan tidak bagus, mobil tangki tidak bisa mendekat," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo