KALTIMPOST.ID, Di tengah keragaman hayati yang melimpah di hutan-hutan Kalimantan, terdapat sebuah tumbuhan perdu yang dikenal dengan nama Fordia splendidissima, atau dalam bahasa lokal disebut "parang-parangan" atau "kayu kayan."
Tumbuhan yang termasuk dalam famili Fabaceae ini memiliki ciri khas sebagai perdu dengan ketinggian yang bisa mencapai 13 meter dan diameter batang (dbh) sekitar 13 cm.
Karakteristik dan Ekologi
Kayu kayan memiliki daun yang tersusun secara berseling, berbentuk majemuk dengan helai daun berseberangan.
Urat daunnya terlihat jelas, dengan bagian bawah daun yang berwarna keputihan hingga emas mengkilat karena dilapisi bulu-bulu halus.
Bunga tumbuhan ini berdiameter sekitar 15 mm, berwarna ungu kemerahan, dan muncul dalam bentuk memanjang.
Buahnya berupa polong panjang sekitar 80 mm, berwarna hijau saat muda, dan pecah serta pipih saat sudah matang.
Tumbuhan ini tumbuh subur di berbagai ekosistem hutan di Kalimantan, termasuk hutan campuran dipterokarpa, kerangas, sub-pegunungan, dan pegunungan yang tidak terganggu hingga ketinggian 3500 meter di atas permukaan laut.
Ia biasanya ditemukan di lokasi aluvial dekat sungai, pada tanah berpasir hingga ultrabasa, serta tanah kapur.
Menariknya, di hutan sekunder, kayu kayan sering kali tumbuh sebagai pohon sisa sebelum gangguan, dengan kemampuan regenerasi yang kuat dari pangkal batangnya.
Persebaran dan Nama Lokal
Tumbuhan ini tersebar luas di seluruh wilayah Kalimantan, dari hutan primer hingga berbagai ekosistem lainnya.
Di berbagai daerah di Kalimantan, kayu kayan dikenal dengan berbagai nama lokal, seperti Biansu, Boot buan, Kayu bawi, Makumpit, Marbahai, dan banyak lagi.
Nama-nama ini mencerminkan keanekaragaman budaya dan bahasa di Kalimantan, serta pentingnya tumbuhan ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Manfaat
Masyarakat etnis Kutai di Kalimantan Timur telah lama memanfaatkan kayu kayan untuk pengobatan tradisional. Akar tumbuhan ini dipercaya memiliki khasiat untuk mengatasi nyeri pada persendian.
Cara pengobatannya adalah dengan meminum air rebusan akar tumbuhan ini. Selain itu, daun kayu kayan juga digunakan untuk mengobati luka terbuka, dengan cara mengoleskan daun yang sudah dihaluskan pada luka tersebut.
Keberadaan tumbuhan ini di hutan-hutan Kalimantan tidak hanya menunjukkan keanekaragaman hayati yang tinggi, tetapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan.
Dengan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan, diharapkan khasiat kayu kayan dapat lebih dikenal luas dan memberikan manfaat bagi lebih banyak orang. (*)
Editor : Dwi Puspitarini