KALTIMPOST.ID, Kapas rampit (Gossypium acuminatum Roxb.), yang termasuk dalam keluarga Malvaceae, adalah tumbuhan perdu yang memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional di kalangan suku Dayak Meratus di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Meskipun tanaman ini mungkin tidak dikenal luas, khasiat pengobatan dari kapas rampit telah terbukti bermanfaat dalam menangani berbagai kondisi kesehatan.
Pengobatan Diabetes dengan Ramuan Akar
Salah satu manfaat utama dari kapas rampit adalah kemampuannya dalam mengobati diabetes.
Masyarakat Dayak Meratus memanfaatkan akar dari kapas rampit sebagai bahan utama ramuan obat.
Akar ini dicampur dengan akar ilalang (Imperata cylindrical) dan kemudian direbus. Air rebusan dari kedua akar ini diminum sebagai pengobatan alami untuk membantu mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes.
Tidak hanya akarnya yang bermanfaat, daun dari kapas rampit juga memiliki khasiat pengobatan, khususnya untuk penyakit kulit.
Daun kapas rampit digunakan dengan cara dicampur dengan kapur sirih dan diaplikasikan pada kulit yang mengalami gatal-gatal atau iritasi.
Ramuan sederhana ini telah lama digunakan oleh masyarakat Dayak Meratus untuk mengatasi berbagai jenis penyakit kulit.
Menariknya, selain digunakan untuk pengobatan tradisional, biji kapas rampit diketahui mengandung zat antispermatogenik.
Zat ini berpotensi menghambat produksi sperma, meskipun penggunaannya dalam konteks ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanismenya dan aplikasinya secara klinis.
Kapas rampit adalah contoh nyata dari kekayaan alam yang dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat lokal melalui kearifan tradisional.
Dalam era modern ini, di mana pengobatan konvensional sering kali menjadi pilihan utama, penting untuk menghargai dan mempelajari praktik-praktik pengobatan tradisional seperti yang dilakukan oleh suku Dayak Meratus.
Tanaman ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya mereka, tetapi juga menunjukkan bagaimana alam menyediakan solusi alami untuk berbagai masalah kesehatan.
Dengan adanya potensi zat antispermatogenik pada biji kapas rampit dan khasiat lainnya, tanaman ini patut menjadi subjek penelitian lebih lanjut.
Pengembangan obat-obatan berbasis tanaman ini bisa membuka jalan bagi terapi baru yang lebih alami dan mungkin lebih aman dibandingkan dengan obat sintetis. (*)
Editor : Dwi Puspitarini