KALTIMPOST.ID, Gunung Carstensz kembali memakan korban. Dua pendaki perempuan asal Indonesia, Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono, tewas dalam perjalanan turun dari puncak pada Jumat, 28 Februari 2025.
Penyebabnya? Hipotermia—bahaya senyap yang sering dianggap remeh oleh para pendaki.
Ketika cuaca ekstrem menyelimuti tubuh dengan dingin yang menusuk tulang, tubuh kehilangan panas lebih cepat dari yang bisa dihasilkan.
Suhu tubuh yang seharusnya stabil di angka 36,5–37,5 derajat Celsius tiba-tiba turun drastis.
Dalam kondisi tertentu, tubuh bahkan tak bisa lagi mempertahankan fungsinya. Dan inilah yang dialami oleh Lilie dan Elsa.
Baca Juga: Waspada, Ada Lebih 100 Laporan Pencurian Meteran Air PDAM di Balikpapan
Banyak orang berpikir bahwa Indonesia yang beriklim tropis tak mungkin mengalami kasus hipotermia.
Nyatanya, kasus ini justru sering terjadi di kalangan pendaki gunung. Suhu di ketinggian bisa turun drastis, apalagi dengan angin kencang dan kondisi tubuh yang kelelahan.
Hipotermia tidak selalu datang dengan tanda-tanda dramatis. Kadang, tubuh mulai menggigil, bicara mulai kacau, lalu kesadaran perlahan menghilang. Dalam hitungan jam, kondisi ini bisa berujung fatal jika tidak segera ditangani.
Menurut penelitian dalam Journal of Clinical Medicine (2021), hipotermia berat bisa menyebabkan detak jantung tak beraturan, kerusakan otak, hingga gagal organ.
Ini bukan sekadar kedinginan biasa. Saat tubuh sudah tak bisa lagi mempertahankan panasnya, sistem vital mulai lumpuh.
Jantung yang seharusnya berdetak stabil mulai melemah, otak yang seharusnya aktif perlahan kehilangan fungsinya.
Lalu, bagaimana hipotermia bisa terjadi begitu cepat? Selain faktor suhu dingin yang ekstrem, ada beberapa pemicu yang memperburuk keadaan.
Salah satunya adalah pakaian basah yang bisa mempercepat hilangnya panas tubuh.
Keringat yang mengendap di pakaian tanpa disadari bisa menjadi ancaman besar saat suhu udara turun.
Angin kencang juga mempercepat proses pendinginan tubuh, membuat panas yang tersisa semakin cepat menguap.
Hal lain yang sering disalahpahami adalah konsumsi alkohol. Banyak orang percaya bahwa alkohol bisa membantu tubuh tetap hangat.
Padahal, faktanya justru sebaliknya. Alkohol membuat pembuluh darah melebar, memberi sensasi hangat sementara.
Namun, di balik itu, tubuh justru kehilangan panas lebih cepat. Penelitian dalam The Lancet (2000) menunjukkan bahwa alkohol bahkan bisa menghambat kemampuan tubuh untuk menggigil, mekanisme alami yang seharusnya membantu tubuh tetap hangat di suhu rendah.
Mencegah hipotermia bukanlah hal yang sulit, namun sering kali diabaikan. Persiapan yang matang sebelum mendaki gunung bisa menjadi penyelamat nyawa.
Menggunakan pakaian berlapis, membawa jaket tebal, dan memastikan tubuh tetap kering adalah hal yang wajib dilakukan.
Tak hanya itu, asupan makanan dan minuman hangat juga sangat berperan dalam menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Dan yang tak kalah penting, hindari konsumsi alkohol saat berada di lingkungan dingin.
Baca Juga: Penukaran Uang Baru Lebaran 2025 Dibuka! Cek Cara, Jadwal, dan Lokasinya
Tragedi Lilie dan Elsa menjadi pengingat bahwa alam selalu punya sisi berbahaya yang tak bisa diremehkan.
Gunung memang menjanjikan pemandangan indah dan tantangan yang menggiurkan, tetapi persiapan yang kurang bisa berujung pada bahaya yang tak terduga.
Kementerian Kesehatan Indonesia mengimbau para pendaki untuk lebih waspada terhadap ancaman hipotermia.
Selalu periksa kondisi cuaca sebelum mendaki, pastikan tubuh dalam kondisi prima, dan jangan pernah mengabaikan tanda-tanda awal hipotermia. Karena satu kesalahan kecil bisa berujung pada tragedi besar. ***
Editor : Dwi Puspitarini