Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal Sindrom Fowler, Urusan Sepele yang Jadi Neraka Seumur Hidup

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 22 April 2025 | 17:24 WIB
INFEKSI: Semua bermula saat infeksi ginjal parah. Sudah diobati, namun tetap sulit buang air kecil hingga berhari-hari. Vonis pahit pun diterima, sindrom langka diidap.
INFEKSI: Semua bermula saat infeksi ginjal parah. Sudah diobati, namun tetap sulit buang air kecil hingga berhari-hari. Vonis pahit pun diterima, sindrom langka diidap.

KALTIMPOST.ID - Bagi sebagian besar orang, urusan buang air kecil adalah hal sepele yang tak perlu dipikirkan. Namun, bagi Anna Gray (27), warga Bath, Inggris, enam tahun terakhir adalah neraka kecil.

Ia tak lagi bisa melakukan aktivitas vital itu secara normal. Vonis Sindrom Fowler, penyakit langka yang masih misterius bagi dunia medis, telah merenggut kebebasannya.

Untuk mengosongkan kandung kemihnya yang bermasalah, Anna kini harus "ngedot" alias melakukan kateterisasi mandiri hingga lima kali sehari. Sebuah rutinitas yang jauh dari kata nyaman dan normal.

Sindrom Fowler sendiri adalah kondisi aneh di mana sfingter uretra, otot yang bertugas mengontrol keluarnya urine, mendadak "mogok kerja". Otot ini gagal rileks, membuat penderitanya nyaris mustahil buang air kecil secara alami.

Meski bisa menyerang tiba-tiba tanpa alasan jelas seperti yang dialami Anna, sindrom ini juga bisa muncul pasca operasi atau melahirkan.

Seperti diberitakan Medical Daily, mimpi buruk Anna bermula pada November 2018. Ia dilarikan ke rumah sakit akibat infeksi ginjal parah setelah berhari-hari tak bisa buang air kecil.

Awalnya, hanya dianggap insiden biasa. Namun, kenyataan pahit segera terkuak. Berminggu-minggu setelah keluar dari rumah sakit, Anna terus kesulitan buang air kecil. Dokter bahkan harus mengeluarkan hampir dua liter urine dari kandung kemihnya yang penuh sesak.

Hanya sebulan setelah rawat inap pertama, Anna kembali harus berurusan dengan rumah sakit. Dokter memutuskan untuk melakukan serangkaian tes mendalam. Hasilnya sungguh mengejutkan: kandung kemih Anna sama sekali tak menunjukkan aktivitas.

Vonis pahit pun dijatuhkan. Dokter angkat tangan, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk memulihkan kemampuan Anna buang air kecil secara alami.

Kateter Jadi Sahabat Setia

Infeksi saluran kemih berulang terus menghantui Anna. Hingga akhirnya, dokter memutuskan langkah drastis: pemasangan kateter suprapubik. Perangkat ini berupa selang yang ditanam langsung ke kandung kemih melalui perut. Urine pun mengalir ke kantong eksternal yang kini harus dikosongkan Anna beberapa kali sehari.

"Menerima bahwa ini adalah kondisi seumur hidup adalah hal yang berat. Tahun lalu, saya bahkan harus dirawat di rumah sakit karena kesehatan mental saya terganggu. Tapi perlahan, saya mulai bisa menerima. Sekarang, saya sudah terbiasa dengan ini," ungkap Anna dengan nada getir.

Kisah Anna Gray adalah pengingat betapa berharganya fungsi tubuh yang sering kita anggap remeh. Di balik rutinitas sederhana buang air kecil, ada mekanisme rumit yang jika terganggu, bisa mengubah hidup seseorang menjadi perjuangan tanpa akhir.

Semoga penelitian lebih lanjut tentang Sindrom Fowler segera membuahkan hasil, memberikan harapan baru bagi Anna dan ribuan penderita lainnya di seluruh dunia. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Vital #air kecil #buang air kecil #penyakit langka