KALTIMPOST.ID - Sumaiya Ansari, bocah kecil berusia dua tahun, harus meregang nyawa di ranjang rumah sakit. Warga kota Byrnihat, India, yang menyandang predikat metropolis paling tercemar sedunia versi Swiss Group IQAir. Dia berjuang keras melawan sesak napas selama berhari-hari sebelum akhirnya membutuhkan bantuan oksigen.
Tragisnya, Sumaiya hanyalah satu dari sekian banyak penduduk kota industri di India yang menderita penyakit serupa. Para dokter menduga kuat, biang keladinya tak lain adalah paparan polusi udara yang sudah stadium gawat darurat.
"Sangat menakutkan melihatnya bernapas seperti ikan yang kehabisan air," ujar Abdul Halim, ayah Sumaiya, dengan nada pilu, dikutip dari Reuters.
Data IQAir sungguh mencengangkan. Rata-rata konsentrasi tahunan PM2,5 di Byrnihat pada 2024 mencapai 128,2 mikrogram per meter kubik. Angka ini lebih dari 25 kali lipat melampaui batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni hanya 5 mikrogram per meter kubik.
PM2,5, partikel halus berukuran super kecil, mampu menyusup jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan jangka panjang terhadap "musuh tak kasat mata" ini terbukti memicu segudang penyakit mematikan, mulai dari asma, bronkitis kronis, penyakit jantung, hingga meningkatkan risiko kematian akibat gangguan pernapasan.
Ironisnya, data pemerintah setempat pun mengamini betapa mengerikannya dampak polusi ini. Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan di Byrnihat melonjak drastis, dari 2.082 kasus pada 2022 menjadi 3.681 kasus di tahun 2024.
"Sembilan puluh persen pasien yang kami tangani setiap hari datang dengan keluhan batuk atau masalah pernapasan lainnya," ungkap Dr J Marak dari Pusat Kesehatan Primer Byrnihat.
Warga setempat tak hanya mengeluhkan sesak napas. Udara beracun di Byrnihat juga memicu berbagai masalah kesehatan lain, seperti ruam kulit, iritasi mata, bahkan merusak tanaman. Aktivitas sederhana seperti menjemur pakaian di luar rumah pun menjadi mimpi buruk.
"Semuanya tertutup debu dan jelaga," keluh Dildar Hussain, seorang petani setempat, menggambarkan betapa suramnya kualitas udara di sana.
Kondisi Byrnihat bak fenomena gunung es dari masalah polusi udara yang kian mengkhawatirkan di India. Para pengamat menilai, polusi kini tak lagi menjadi "penyakit" eksklusif kota-kota metropolitan seperti New Delhi. Industrialisasi yang menggila tanpa diimbangi perlindungan lingkungan yang memadai mulai "menggerogoti" kota-kota kecil.
Berbeda dengan wilayah lain di India yang biasanya mengalami puncak polusi saat musim dingin, kualitas udara Byrnihat justru memburuk sepanjang tahun. Ini menunjukkan sumber polusi di sana bersifat konstan dan membutuhkan penanganan yang lebih serius.
Namun, secercah harapan mulai muncul. Setelah laporan IQAir yang memilukan itu dirilis pada Maret lalu, pemerintah negara bagian Assam dan Meghalaya akhirnya sepakat untuk membentuk komite gabungan. Mereka berjanji akan bekerja sama untuk memerangi polusi yang mencekik Byrnihat.
Akankah langkah ini mampu mengembalikan udara bersih bagi Sumaiya-Sumaiya kecil lainnya di Byrnihat? Waktu dan tindakan nyata yang akan menjawabnya. Yang pasti, tragedi Sumaiya menjadi pengingat pahit betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat abainya kita terhadap lingkungan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo