KALTIMPOST.ID — Banyak orang mengira saraf terjepit hanya terjadi karena kecelakaan atau benturan keras. Padahal, kebiasaan sehari-hari—terutama posisi tubuh saat duduk, berdiri, atau mengangkat beban—bisa jadi pemicu utama gangguan ini.
Menurut dr. Irca Ahyar Sp.N, DFIDN dari DRI Clinic Jakarta, saraf terjepit terjadi saat terjadi penyempitan ruang antar ruas tulang belakang, yang menyebabkan saraf tertekan. "Ini bisa disebabkan oleh perubahan struktur tulang belakang akibat posisi tubuh yang salah dan dilakukan berulang-ulang dalam jangka panjang," jelasnya.
Duduk Membungkuk dan Main HP Sambil Tengkurap
Duduk terlalu lama dalam posisi membungkuk di depan komputer atau bermain ponsel sambil tengkurap menyamping mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten selama berbulan-bulan, posisi ini bisa menyebabkan perubahan postur dan struktur tulang belakang.
"Kondisi seperti itu awalnya hanya memengaruhi otot, tapi jika dilakukan terus-menerus, bisa menyebabkan celah antar tulang menyempit dan menjepit saraf," tambah dr. Irca.
Angkat Beban dengan Postur Salah
Mungkin Anda pernah mengangkat galon atau barang berat lainnya dengan posisi membungkuk? Ini salah satu contoh yang sangat berisiko. Tanpa disadari, saat mengangkat beban berat dengan otot yang tidak siap atau dalam posisi tubuh yang salah, tulang belakang bisa bergeser.
"Bahkan pada kasus tertentu, orang baru merasakan gejala nyeri atau kesemutan di kemudian hari, padahal kerusakan strukturnya sudah dimulai sejak lama," jelas dr. Irca.
Posisi Tidur yang Tidak Netral
Posisi tidur tengkurap atau menyamping dengan leher tertarik juga bisa memperbesar risiko saraf terjepit, terutama di area leher dan punggung atas. Posisi tidur yang ideal adalah telentang dengan bantal yang menopang leher secara natural.
Duduk Lama Tanpa Dukungan Pinggang
Tanpa dukungan lumbar (bagian bawah punggung), duduk lama bisa menekan saraf tulang belakang bagian bawah (lumbar), terutama jika dilakukan di kursi keras tanpa sandaran. Kebiasaan ini mempercepat keausan bantalan antar tulang dan berpotensi menjepit saraf.
Risiko Bertambah Seiring Usia
“Dengan bertambahnya usia, struktur otot melemah. Pergeseran tulang sekecil apa pun bisa menimbulkan gejala signifikan seperti nyeri, kesemutan, atau bahkan mati rasa,” kata dr. Irca. Posisi tubuh yang salah di usia lanjut bisa memicu saraf terjepit hanya dari aktivitas sehari-hari seperti membungkuk saat menyapu atau duduk di lantai terlalu lama.
MEMBEDAKAN PEGAL BIASA DAN SARAF TERJEPIT
Pegal biasa umumnya hilang setelah istirahat atau dipijat. Namun, pegal akibat saraf terjepit cenderung menetap dan kembali muncul di area yang sama. Jika Anda mengalami keluhan seperti ini, sebaiknya lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pencegahan Dimulai dari Postur
Saraf terjepit bisa dicegah dengan memperbaiki postur tubuh. Ini mencakup cara duduk yang benar, posisi tidur yang netral, serta teknik mengangkat beban yang melibatkan kekuatan otot kaki dan pinggul, bukan hanya punggung.
Dr. Irca juga menganjurkan stretching rutin untuk tulang belakang, serta screening dini bagi anak-anak dan orang dewasa produktif untuk mengetahui potensi masalah struktur tulang belakang sejak dini.
“Kenali kekuatan tubuh sendiri. Jangan memaksakan mengangkat beban jika otot belum terlatih. Postur yang baik bisa menyelamatkan kita dari kondisi serius seperti saraf terjepit,” tutupnya.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko