KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Belakangan ini, tren menutup mulut dengan selotip saat tidur tengah marak di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Praktik yang disebut mouth taping ini diklaim bisa meningkatkan kualitas tidur, mengurangi dengkuran, dan bahkan meningkatkan performa atletik.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa tren ini belum terbukti secara ilmiah dan justru bisa berbahaya bagi sebagian orang.
“Penutupan mulut saat tidur dimaksudkan untuk mendorong pernapasan lewat hidung, yang dianggap lebih efisien,” jelas Dr. Jennifer Gourdin, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Kaiser Permanente di Silver Spring, Maryland.
“Tapi hingga kini belum ada bukti kuat yang mendukung manfaat jangka panjangnya.”
Menurut Gourdin, bernapas melalui hidung memang memiliki beberapa keuntungan, seperti menyaring udara dan menjaga kelembapan saluran napas.
Namun, ia menekankan bahwa penggunaan selotip tidak aman bagi semua orang, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi seperti sleep apnea, hidung tersumbat, atau gangguan alergi.
“Menutup mulut dengan plester bisa membatasi jalur napas dan menurunkan kadar oksigen selama tidur,” ungkapnya. “Pada sebagian orang, ini bisa memicu kecemasan hingga serangan panik.”
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada Mei lalu meninjau 10 penelitian seputar mouth taping dan menemukan hanya sedikit manfaat untuk penderita sleep apnea ringan.
Namun, studi tersebut juga memperingatkan adanya potensi dampak kesehatan yang merugikan, terutama bagi mereka yang memiliki masalah pada saluran napas.
Gourdin juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada produk plester mulut yang disetujui oleh FDA untuk penggunaan tidur.
Sebagai gantinya, ia menyarankan untuk memperbaiki kualitas tidur dengan cara yang lebih aman: menciptakan suasana kamar yang nyaman dan gelap, menghindari penggunaan layar sebelum tidur, serta menjaga rutinitas tidur yang konsisten.
Ia juga menyarankan untuk mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, serta mempertimbangkan posisi tidur miring bagi yang sering mendengkur.
“Tidur yang berkualitas bukan soal viral atau tidaknya metode yang digunakan, tapi bagaimana tubuh mendapatkan istirahat terbaik secara alami,” tutup Gourdin.
Editor : Uways Alqadrie