KALTIMPOST.ID, Kesehatan mental selama ini sering dianggap terpisah dari fisik, seolah hanya dipengaruhi oleh stres, trauma, atau tekanan hidup.
Namun, ilmu pengetahuan modern mulai membalikkan anggapan itu.
Ternyata, apa yang kita makan memiliki dampak signifikan terhadap suasana hati, kecemasan, bahkan risiko depresi. Ya, isi piring kita bisa menjadi penentu bagaimana kita merasa hari ini.
Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa usus dan otak terhubung secara erat melalui apa yang disebut gut-brain axis.
Sistem pencernaan bukan sekadar tempat mencerna makanan, tetapi juga rumah bagi jutaan mikrobiota usus yang berperan dalam memproduksi neurotransmitter seperti serotonin—hormon yang mengatur mood dan emosi.
Sekitar 90% serotonin dalam tubuh manusia diproduksi di usus, bukan di otak.
Ini menjadikan pola makan bukan hanya penting untuk tubuh, tetapi juga bagi kestabilan psikologis.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychiatry Research oleh Prof. Felice Jacka dari Deakin University, Australia, membuktikan bahwa orang yang menjalani diet Mediterania—yang kaya sayur, buah, ikan, dan biji-bijian—mengalami penurunan gejala depresi yang signifikan dibanding mereka yang mengonsumsi makanan olahan, cepat saji, dan bergula tinggi.
Ini merupakan salah satu studi pertama yang membuktikan secara ilmiah bahwa pola makan sehat dapat menjadi terapi tambahan bagi masalah kesehatan mental.
Namun, plot twist-nya: banyak makanan yang terlihat sehat justru berpotensi memicu kecemasan. Misalnya, granola kemasan yang tinggi gula tambahan, atau yoghurt rendah lemak yang diberi pemanis buatan.
Gula berlebih dapat menyebabkan lonjakan energi yang diikuti rasa lelah ekstrem, memperburuk suasana hati.
Selain itu, konsumsi kafein berlebihan juga dapat meningkatkan kadar kortisol—hormon stres—yang membuat seseorang lebih mudah cemas.
Menurut Dr. Uma Naidoo, psikiater nutrisi dari Harvard dan penulis buku This Is Your Brain on Food, makanan adalah "obat pertama" bagi otak.
Ia menekankan pentingnya konsumsi makanan fermentasi seperti kimchi, kefir, dan tempe, yang kaya akan probiotik, karena terbukti meningkatkan keberagaman mikroba usus dan memperbaiki mood serta fungsi kognitif.
Makanan dan kesehatan mental berjalan beriringan. Dalam dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, memperhatikan asupan bukan hanya soal tubuh ideal, tetapi juga kebahagiaan dan ketenangan batin.
Jadi, lain kali sebelum menyalahkan hari yang buruk, coba periksa: apa yang Anda makan kemarin?
Editor : Hernawati