KALTIMPOST.ID, Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah virus yang sangat menular dan dikenal sebagai salah satu penyebab utama infeksi pada saluran pernapasan.
Virus ini dapat menyerang siapa saja, dari anak-anak, orang dewasa, hingga kelompok usia lanjut (lansia).
Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., SpA dari Tzu Chi Hospital, menjelaskan bahwa RSV merupakan agen penyebab penyakit pernapasan yang disebut bronkiolitis.
“RSV adalah nama virusnya, sementara kondisi penyakit yang ditimbulkannya adalah bronkiolitis,” kata dr. Ian dalam sesi daring di Jakarta, akhir Oktober 2025.
Ketika anak terinfeksi RSV, saluran udara kecil di dalam paru-paru (bronkiolus) akan menyempit dan mengalami kontraksi.
Ian memaparkan, “Udara dapat masuk, tetapi kesulitan untuk dikeluarkan Akibatnya, udara menjadi terperangkap di paru-paru, yang terkadang membuat paru-paru tampak mengembang ketika diperiksa melalui rontgen,” katanya.
Menurut dr. Ian, tidak semua kasus infeksi RSV tergolong berat. Mayoritas pasien hanya menunjukkan gejala ringan seperti flu, demam, atau batuk biasa.
Namun, pada kasus-kasus tertentu, infeksi ini dapat memburuk hingga menimbulkan gangguan serius pada paru-paru.
Meskipun RSV dapat menginfeksi semua usia, bayi dan lansia adalah kelompok yang paling rentan mengalami kondisi parah.
“Selain bayi, orang dewasa yang memiliki penyakit penyerta (komorbiditas) atau mereka yang berusia di atas 65 tahun juga berisiko tinggi mengalami infeksi berat,” kata dr. Ian.
Ia menambahkan, beberapa bayi memiliki risiko yang jauh lebih tinggi terhadap komplikasi RSV, di antaranya bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah (dibawah 2.500 gram), bayi dengan kelainan paru-paru kronis atau penyakit jantung bawaan, anak yang memiliki kelainan kromosom (misalnya, Down Syndrome), anak yang menderita gizi buruk atau mengalami gangguan pada sistem kekebalan tubuh, bayi yang memiliki masalah pada saraf dan otot.
“Kelompok-kelompok ini memerlukan pengawasan ekstra karena sistem imunitas mereka cenderung lebih lemah dalam melawan virus,” jelasnya.
Penyebaran RSV dapat terjadi melalui droplet di udara ketika individu yang terinfeksi batuk atau bersin.
Selain itu, virus juga dapat menular melalui kontak dengan benda atau permukaan yang terkontaminasi virus.
Oleh karena itu, tindakan pencegahan seperti menjaga kebersihan diri dan menerapkan etika batuk yang benar menjadi sangat penting.
“RSV bisa menimpa siapa saja. Orang dewasa mungkin hanya mengalami batuk pilek biasa, tetapi kemudian mereka menularkan virus tersebut kepada bayi-bayi yang masuk kategori berisiko tinggi,” jelas dr. Ian.
Ia juga menekankan pentingnya etika batuk, yaitu menutup mulut menggunakan siku, untuk meminimalkan penularan virus ke orang lain.
Pada anak berusia di bawah dua tahun, gejala khas infeksi RSV meliputi demam, batuk, napas pendek, dan mengi (bunyi napas bernada tinggi).
“Jika bayi menunjukkan gejala batuk, sesak, demam, dan mengi, besar kemungkinannya disebabkan oleh RSV,” ungkap dr. Ian.
Melalui stetoskop, dokter mungkin mendengar bunyi “ngik-ngik” pada paru-paru, yang serupa dengan gejala asma.
Terkadang, orang tua juga dapat mendengar bunyi ini tanpa alat bantu. Gejala lain yang mungkin timbul pada bayi adalah kesulitan atau kecepatan bernapas yang abnormal, bunyi nafas berlendir atau grok-grok (ronchi), sikap rewel, kesulitan tidur, dan penurunan tingkat aktivitas, gangguan pencernaan seperti diare atau muntah.
Komplikasi serius yang dapat menyertai RSV meliputi pneumonia, bronkiolitis, infeksi telinga tengah (otitis media), dan rendahnya kadar oksigen dalam darah (hipoksemia).
Infeksi RSV juga berpotensi menyebabkan kondisi serius pada kelompok lansia. Tanda-tanda yang umum terlihat termasuk: sakit kepala, sakit tenggorokan, bunyi napas kasar, kelelahan, dan kesulitan tidur.
Komplikasi pada lansia dapat mencakup bronkitis dan sinusitis, pneumonia atau infiltrat paru, eksaserbasi (perburukan) penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau asma, perburukan kondisi gagal jantung kongestif.
Lansia dan bayi sering menjadi target infeksi karena kedua kelompok usia ekstrem ini memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum matang atau telah mengalami penurunan fungsi.
Ian menegaskan bahwa langkah utama dalam pencegahan RSV adalah menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Mencuci tangan secara teratur, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mempraktikkan etika batuk yang benar adalah cara-cara paling efektif untuk mengurangi risiko penyebaran.
Editor : Hernawati