Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Awas! Tidur Lewat Jam 9 Malam Tingkatkan Risiko Diabetes dan Kanker, Ini Penjelasan Dokter soal Ritme Sirkadian

Ari Arief • Rabu, 19 November 2025 | 12:55 WIB

Ilustrasi seorang wanita sedang hendak tidur dengan memakai lampu.
Ilustrasi seorang wanita sedang hendak tidur dengan memakai lampu.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Dicky Lavenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, FINASIM, menyoroti bahwa kualitas dan durasi istirahat malam adalah faktor kunci dalam mencegah penyakit diabetes.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar sebisa mungkin menghindari tidur melewati pukul 21.00 (9 malam).

Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan pengaturan waktu biologis tubuh yang dikenal sebagai ritme sirkadian (siklus tidur-bangun).

Dr. Dicky menyebutkan telah banyak studi yang menunjukkan hubungan antara risiko diabetes dengan waktu seseorang mulai tidur.

"Sebagai contoh, sekresi hormon melatonin mencapai puncaknya sekitar pukul 22.00 hingga 23.00, yang berfungsi merangsang kantuk dan berperan dalam proses perbaikan tubuh," jelas dr. Dicky dalam acara #Hands4Diabetes, Minggu (16/11).

Ia melanjutkan, "Banyak penelitian membandingkan kelompok yang tidur pukul 21.00 hingga 04.00 atau 05.00 pagi, dengan kelompok yang baru tidur pukul 00.00 malam hingga 09.00 pagi.

Baca Juga: Prabowo: Tugas Sangat Berat, Perbaikan Harus Serentak di Birokrasi, Hukum, dan Kesehatan

Hasilnya menunjukkan bahwa ekspresi genetik yang berhubungan dengan peradangan, diabetes, dan risiko kanker terbukti lebih tinggi pada individu yang memiliki kebiasaan tidur larut malam (begadang) dibandingkan mereka yang tidur lebih awal."

Mengingat banyak profesi yang menuntut kerja shift malam, dr. Dicky menekankan perlunya peninjauan ulang kebijakan kerja shift di berbagai perusahaan.

Selain mengganggu sistem sirkadian, kebiasaan begadang juga dapat memicu pola makan berlebihan. Kondisi ini terjadi karena hormon stres tetap berada pada tingkat yang tinggi, bahkan ketika seharusnya tubuh sudah beristirahat.

Baca Juga: Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di Kaltim, Ini Tips Dokter Agar Pasien Tidak Semakin Kronis

"Saat kita tetap terjaga, kadar hormon stres ikut meningkat. Hormon stres ini juga memiliki dampak pada kadar gula darah.

Selain itu, kondisi terjaga memicu rasa lapar. Karena opsi makanan mudah diakses-seperti memesan martabak, nasi goreng, atau membuat mi instan-ada banyak faktor risiko tambahan yang masuk," paparnya.

Dr. Dicky memberikan saran bagi mereka yang tidak bisa menghindari begadang karena tuntutan pekerjaan: "Jika tidur larut malam memang tidak terhindarkan, pastikan durasi tidur tetap tercukupi, kualitas tidur diupayakan maksimal, dan pola makan serta olahraga diatur menjadi lebih sehat untuk menjaga kesehatan Anda." (*)

Editor : Almasrifah
#diabetes #kunci #malam #tidur #kesehatan