KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Pembahasan mengenai stunting kerap terfokus pada pemenuhan gizi. Padahal, ada faktor lain yang tak kalah penting dan sering terlewat dalam upaya memaksimalkan tumbuh kembang anak. Para pakar kini mulai menyoroti kembali aspek tersebut agar masyarakat tidak hanya terpaku pada urusan makanan.
Pada titik ini, perhatian mengarah pada sudut pandang medis yang menegaskan bahwa aktivitas fisik memiliki pengaruh langsung terhadap proses pertumbuhan. Pendapat itu disampaikan Dokter Spesialis Ilmu Faal Olahraga, dr. Sonny Gosal, yang menilai olahraga harus menjadi bagian dari strategi pencegahan stunting.
Baca Juga: Kasus DBD di Mekar Sari Balikpapan Turun, Ini yang Dilakukan Petugas di Puskesmas Setempat
“Kita selalu bicara gizi ketika membahas stunting. Padahal olahraga juga berpengaruh besar. Jepang dulu terkenal dengan postur tubuh pendek, tapi kini para atletnya tinggi-tinggi. Itu bukti bahwa olahraga mendukung pertumbuhan,” ujar Sonny.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas fisik berperan pada sejumlah aspek biologis penting, termasuk pertumbuhan dan kepadatan tulang. Gerakan seperti berlari atau melompat mampu merangsang pertumbuhan tulang sehingga anak dapat mencapai tinggi badan optimal.
Selain itu, olahraga meningkatkan produksi hormon pertumbuhan (growth hormone). “Hormon ini bekerja ketika anak aktif bergerak. Tanpa aktivitas fisik, efeknya tidak maksimal meski gizinya sudah baik,” katanya.
Olahraga juga membantu memperbaiki sirkulasi darah, termasuk aliran darah ke otak, yang berdampak pada kemampuan konsentrasi dan kesiapan belajar anak. “Kadang orang lupa bahwa olahraga bukan hanya soal tubuh, tapi juga perkembangan otak,” lanjutnya.
Selain itu, peningkatan kekuatan otot, keseimbangan, serta koordinasi turut memperkaya perkembangan motorik anak sebagai bagian dari tumbuh kembang.
Beberapa aktivitas fisik yang dinilai paling efektif untuk pencegahan stunting adalah lari, lompat, berenang, dan sepak bola. Selain aman dan murah, jenis olahraga tersebut mudah dilakukan di berbagai lingkungan.
Baca Juga: Pemprov Kaltim Raup Rp 2,1 M dari Lelang Aset Tak Terpakai
Meski demikian, Sonny menegaskan olahraga tidak bisa berdiri sendiri atau menggantikan peran gizi. Kedua faktor harus berjalan bersamaan. “Stunting bukan hanya soal kurang makan. Ini soal pertumbuhan yang tidak optimal. Olahraga membantu mengaktifkan seluruh proses pertumbuhan itu,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah lebih menonjolkan aspek aktivitas fisik dalam program penanganan stunting di daerah. Termasuk memastikan anak memiliki ruang bermain yang memadai.
“Kalau mau serius menurunkan stunting, jangan hanya bicara isi piring. Kita juga harus bicara bagaimana anak bergerak,” tegas Sonny. (*)
Editor : Ery Supriyadi