KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Meskipun sering diasosiasikan dengan penyakit orang dewasa, kasus gagal ginjal pada anak-anak menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Gagal ginjal adalah kondisi di mana salah satu atau kedua ginjal kehilangan kemampuan optimalnya untuk berfungsi. Akibatnya, terjadi penumpukan cairan berlebih dan zat beracun di dalam tubuh, yang jika diabaikan dapat mengganggu proses tumbuh kembang normal anak.
Pemicu Kerusakan Ginjal pada Anak
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan edukator kesehatan, Christian Dion Saelan, menjelaskan sejumlah faktor dapat memicu kerusakan ginjal pada usia anak.
Baca Juga: Awas! Penyakit Ginjal Kronis Mengancam, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat!
“Penyakit glomerulonefritis dapat terjadi pasca infeksi streptokokus. Selain itu, penyebab lainnya meliputi kelainan ginjal bawaan, penyakit autoimun, infeksi parah, dehidrasi akut yang parah, hingga kerusakan yang dipicu oleh efek samping obat-obatan tertentu,” jelasnya, Kamis (4/12/2025).
Ia menekankan bahwa pencegahan adalah strategi terbaik. Orang tua diimbau untuk selalu menjaga kesehatan anak secara keseluruhan dan memastikan anak tidak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan.
Saelan juga menyarankan untuk menghindari makanan kemasan, mempercayakan pengobatan hanya kepada dokter, bukan iklan, serta memastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Klasifikasi dan Gejala Gagal Ginjal
Melansir informasi dari Mitra Keluarga, secara umum gagal ginjal terbagi menjadi dua jenis. Pertama, gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba dan dapat berkembang dalam hitungan jam hingga beberapa hari.
Kondisi ini sering dipicu oleh infeksi, penyakit kritis, atau komplikasi kesehatan lainnya. Jika tidak segera ditangani, gagal ginjal akut berpotensi fatal.
Baca Juga: Empat Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Ginjal Cepat Rusak, Nomor 2 Sering Diabaikan!
Kedua, gagal ginjal Kronis. Berkembang secara bertahap dalam jangka waktu yang lama. Gejala awal biasanya tidak kentara, sehingga diagnosis seringkali memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus.
Kedua jenis gagal ginjal, baik akut maupun kronis, dapat menunjukkan gejala yang serupa. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai orang tua meliputi pembengkakan (edema) pada area wajah, tangan, atau kaki.
Perubahan frekuensi atau jumlah buang air kecil, urine berbusa atau berwarna lebih gelap, tekanan darah yang tinggi (hipertensi), nafsu makan berkurang dan mudah merasa lelah (fatigue), demam, kulit gatal, dan sesak napas, mual atau muntah serta penurunan berat badan, kesulitan konsentrasi dan pertumbuhan fisik yang terhambat.
Karena setiap anak dapat menunjukkan gejala yang berbeda, orang tua harus waspada jika ditemukan lebih dari satu tanda di atas. Faktor risiko lain yang patut diperhatikan adalah kelainan kongenital (bawaan lahir), penyakit genetik, sindrom nefrotik, penyakit sistemik (seperti lupus, diabetes, anemia sel sabit), cedera/luka bakar serius, kondisi pasca operasi, atau adanya penyumbatan/refluks pada saluran kemih.
Baca Juga: Tanaman Obat Pilihan untuk Gagal Ginjal Stadium Awal, Ada yang Tumbuh di Pekarangan Rumah!
Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk tes darah dan urine (untuk mengecek kreatinin dan albumin), pencitraan (USG, CT scan, atau MRI), hingga biopsi ginjal untuk analisis jaringan.
Gagal ginjal yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius seperti perlambatan pertumbuhan, anemia, gangguan metabolisme fosfat dan kalsium, resistensi insulin, dan masalah hormon (sistem endokrin).
Penanganan dan Pencegahan
Pilihan pengobatan utama cuci darah (hemodialisis). Prosedur ini menyaring darah anak menggunakan mesin untuk menghilangkan zat beracun dan cairan berlebih. Meskipun tidak menyembuhkan ginjal secara permanen, terapi ini esensial untuk mengontrol kondisi.
Terapi farmasi meliputi pemberian obat eritropoietin untuk mengatasi anemia, vitamin D, dan obat anti-hipertensi sesuai dengan kondisi pasien.
Baca Juga: Sering Disepelekan, Padahal Bisa Jadi Ciri-Ciri Penyakit Ginjal Stadium Awal
Modifikasi diet dilakukan dengan membatasi asupan kalium dan garam, serta mengatur konsumsi protein untuk mengurangi beban kerja ginjal. Transplantasi ginjal merupakan opsi yang paling efektif untuk meningkatkan harapan dan kualitas hidup anak dalam jangka panjang.
Cara Mencegah Gagal Ginjal
Berdasarkan rekomendasi medis, upaya pencegahan meliputi: membatasi asupan garam dan gula tinggi, memastikan asupan cairan yang cukup, menjaga berat badan ideal, mendorong anak rutin berolahraga, mengonsumsi obat hanya sesuai resep dokter, dan menghindari produk kemasan serta makanan cepat saji secara berlebihan.
Orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika anak mengeluh sakit di pinggang atau perut samping, atau muncul gejala lain seperti pembengkakan, perubahan warna urine, atau penurunan nafsu makan. Deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.(*)
Editor : Hernawati