Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jangan Asal Ikut Tren, Pakar Ingatkan Suplemen Bukan Pengganti Makanan Sehat

Ari Arief • Senin, 22 Desember 2025 | 06:10 WIB

ilustrasi suplemen
ilustrasi suplemen

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Di era gempuran iklan vitamin untuk kecantikan dan kebugaran, banyak masyarakat yang merasa wajib mengonsumsi suplemen setiap hari.

Namun, pandangan ini diluruskan oleh dr. Dani Djuanda, Sp.D.V.E, spesialis kulit sekaligus pendiri Clara Skin Clinic Raden Saleh. Ia menegaskan bahwa suplemen bukanlah kebutuhan utama bagi setiap orang.

Sesuai dengan namanya, suplemen bersifat sebagai tambahan atau pendukung. Dani menjelaskan bahwa individu yang sudah menerapkan pola makan seimbang, kaya sayur, dan buah—atau yang dikenal dengan prinsip empat sehat lima sempurna—sebenarnya tidak lagi memerlukan asupan vitamin tambahan.

"Jika asupan nutrisi dari makanan dan minuman sudah mencukupi, suplemen tidak lagi diperlukan," tuturnya. Menurutnya, kesehatan tubuh dan kulit tetap berakar pada pola makan alami yang bergizi.

Baca Juga: Waspada! 12 Kondisi Kesehatan yang Mengharuskan Seseorang Membatasi Kopi

Kebutuhan akan suplemen biasanya muncul dalam kondisi medis tertentu, seperti saat masa pemulihan setelah sakit atau ketika tubuh mengalami defisiensi nutrisi spesifik.

Ia mengambil contoh vitamin D yang sangat populer sejak pandemi. Idealnya, konsumsi vitamin ini harus didasari pada hasil pemeriksaan medis.

"Langkah yang tepat adalah mengecek kadar vitamin D melalui laboratorium. Jika angkanya sudah di atas 30, maka tambahan suplemen tidak lagi dibutuhkan," jelas dr. Dani.

Namun, ia menyadari tantangan biaya laboratorium membuat banyak orang akhirnya mengonsumsi suplemen secara sembarangan tanpa indikasi medis yang jelas.

Baca Juga: Strategi Menurunkan Kadar Gula pada Nasi, Mengapa Nasi Dingin Lebih Sehat?

Dalam praktiknya, dr. Dani sering menemukan kadar vitamin D yang rendah pada pasien penderita alergi maupun penyakit autoimun.

Pada kasus seperti ini, pemberian dosis tinggi (misalnya 5.000 IU) diperlukan untuk membantu memperbaiki kondisi pasien serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Hal ini membuktikan bahwa penggunaan vitamin harus memiliki target medis yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren pasar.

Salah satu poin penting yang diingatkan oleh dr. Dani adalah efektivitas suplemen. Ia menyarankan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap produk kombinasi yang mencampurkan berbagai vitamin dan mineral dalam satu tablet kecil.

Produk "semua ada" sering kali memiliki dosis yang sangat rendah sehingga tidak memberikan dampak signifikan bagi kesehatan. Meski harganya cenderung lebih mahal dan ukuran kapsulnya lebih besar, vitamin tunggal (seperti vitamin C, D, atau E saja) jauh lebih efektif secara medis.

Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik untuk Jalan Kaki? Temukan Manfaatnya di Setiap Jam

Kesimpulan

Sebagai penutup, dr. Dani mengimbau agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh janji-janji iklan.

Memilih suplemen harus dilakukan secara selektif dan pintar. Ingatlah bahwa suplemen tidak akan pernah bisa menggantikan posisi makanan bergizi seimbang.

Bagi individu yang sehat, pemenuhan gizi melalui diet harian jauh lebih dari cukup.(*)

Editor : Dwi Puspitarini
#vitamin #medis #Cukup #makanan sehat #suplemen