Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Temuan BRIN: Bukan Salmon atau Gabus, Ikan Sidat RI Jadi Sumber Omega-3 Tertinggi Dunia

Uways Alqadrie • Minggu, 4 Januari 2026 | 12:16 WIB

Ikan sidat menjadi sumber omega 3 tertinggi, mengalahkan salmon dan gabus. (Foto ist)
Ikan sidat menjadi sumber omega 3 tertinggi, mengalahkan salmon dan gabus. (Foto ist)
KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Anggapan bahwa ikan salmon menjadi sumber omega-3 tertinggi dunia dipatahkan oleh hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti BRIN menyebut, ikan sidat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia justru memiliki kandungan omega-3 paling tinggi dibandingkan ikan lain.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani, menjelaskan ikan sidat mengandung DHA dan EPA dalam jumlah tinggi. Selain itu, ikan ini juga kaya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, fosfor, serta kalori yang dibutuhkan tubuh.

Nama lain ikan sidat di Indonesia sangat beragam tergantung daerah, seperti Unagi (nama Jepang yang populer), sogili (Sumatera), moa (Betawi), lubang (Sunda), pelus (Jawa Tengah).

Sering disebut juga belut bertelinga atau hanya belut (meski secara teknis berbeda dengan belut sawah), dengan nama ilmiahnya tergolong dalam genus Anguilla. 

DHA berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak manusia, sementara EPA dikenal membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.

Kandungan gizi tersebut menjadikan sidat sebagai sumber pangan bernilai tinggi sekaligus berpotensi besar bagi ketahanan pangan nasional.

Namun, Gadis mengingatkan bahwa sidat merupakan spesies dengan siklus hidup yang sangat kompleks. Sidat termasuk ikan katadromus, yang menetas di laut dalam, kemudian bermigrasi ke estuari dan perairan tawar hingga dewasa.

Pada fase awal, larva sidat berbentuk transparan menyerupai daun dan tidak mampu berenang.

Ketergantungan sidat pada tiga ekosistem—laut, estuari, dan air tawar—membuat populasinya rentan terhadap gangguan. Tingginya permintaan pasar, terutama penangkapan glass eel atau sidat muda, dinilai menjadi ancaman serius bagi kelestarian spesies ini.

BRIN mencatat eksploitasi berlebih, perubahan kondisi muara, gangguan jalur migrasi, serta perubahan musim panen menyebabkan pasokan sidat tidak stabil. Kondisi tersebut berdampak pada fluktuasi harga di lapangan dan keterbatasan daya serap industri akibat kapasitas hatchery yang terbatas.

Untuk menjaga keberlanjutan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan pembatasan kuota penangkapan glass eel serta aturan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor.

Kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan terhadap populasi liar sekaligus mendorong pembesaran di dalam negeri.

Meski demikian, Gadis menilai implementasi kebijakan masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan sarana budidaya, ketergantungan pakan impor, hingga lemahnya pengawasan dan koordinasi antarpihak.

Ia menegaskan bahwa tata kelola ekologi harus menjadi fondasi hilirisasi industri sidat. Melalui penguatan konservasi berbasis sains dan pengembangan industri pengolahan, Indonesia diharapkan beralih dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tinggi.

Menurutnya, pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem perairan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat dan industri perikanan nasional.

Editor : Uways Alqadrie
#sumber omega 3 selain salmon #ikan salmon #Sumber Omega 3 #Ikan Sidat #BRIN #ikan gabus