KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Garam kerap mendapatkan reputasi buruk dalam pola makan sehat.
Namun, Dr. Dmitry Yaranov, seorang spesialis jantung dan transplantasi, menjelaskan bahwa natrium sebenarnya adalah mineral penting, kecuali bagi mereka yang memiliki riwayat kesehatan khusus.
Bagi pengidap penyakit tertentu, garam bukan lagi sekadar penyedap rasa, melainkan pemicu komplikasi serius. Berikut adalah lima kelompok yang harus membatasi asupan garam secara ketat.
Penderita Gagal Jantung
Bagi mereka yang memiliki kondisi jantung lemah, natrium adalah pemicu retensi cairan.
Penumpukan cairan ini tidak hanya memberatkan kerja jantung, tetapi juga sering menjadi penyebab utama pasien harus berulang kali masuk rumah sakit, yang secara jangka panjang dapat menurunkan angka harapan hidup.
Baca Juga: Wajib Baca! 21 Jenis Penyakit dan Layanan Medis yang Tidak Dijamin BPJS Kesehatan Mulai 2026
Pasien Hipertensi Resisten
Jika Anda memerlukan tiga hingga empat jenis obat hanya untuk menormalkan tekanan darah, maka konsumsi garam bukan lagi hal yang sepele.
Dr. Yaranov menyebut konsumsi garam pada kondisi ini sebagai "sabotase" terhadap upaya pengobatan yang sedang dijalani.
Pengidap Gangguan Ginjal Kronis
Garam berlebih menjadi beban berat bagi ginjal yang fungsinya sudah menurun.
Selain mempercepat kerusakan organ, kelebihan natrium membuat tubuh kesulitan mengatur volume cairan, sehingga memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Penderita Hipertensi Portal
Baca Juga: Panduan Operasi yang Ditanggung dan Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Kondisi ini biasanya terjadi pada pasien sirosis hati, di mana terdapat tekanan tinggi pada pembuluh vena portal.
Asupan garam yang tidak terkontrol dapat memicu asites, yakni penumpukan cairan di area perut yang mengganggu kerja organ dalam.
Lansia dengan Pengerasan Pembuluh Darah
Seiring penuaan, elastisitas pembuluh darah (arteri) akan berkurang atau menjadi kaku. Hal ini membuat tubuh lansia lebih sensitif terhadap natrium, sehingga konsumsi garam yang tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke secara signifikan.(*)
Editor : Dwi Puspitarini