KALTIMPOST.ID,IKN-Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menyedot perhatian dunia.
Tak hanya soal kemegahan Istana Garuda yang menyerupai sayap burung mitologis, namun juga visi besar presiden RI untuk membangun kota hijau masa depan di tengah hutan Kalimantan.
Namun, di balik antusiasme ratusan ribu wisatawan yang memadati kawasan inti pusat pemerintahan, muncul diskursus penting mengenai ketahanan pangan dan kesehatan lingkungan, terutama terkait ancaman mikroplastik.
Laporan terbaru dari koresponden media Amerika Serikat, NPR, Katerina Barton, menyoroti kontras antara ambisi teknologi tinggi IKN dengan tantangan lapangan.
Meski IKN dirancang sebagai kota futuristik bertenaga energi terbarukan, kekhawatiran mengenai dampak lingkungan jangka panjang, termasuk polusi plastik, menjadi ujian bagi legitimasi proyek ini di mata global.
Ancaman di Piring Makan
Baca Juga: Bahaya Doomscrolling Pagi Hari terhadap Kesehatan Jantung dan Mental
Sejalan dengan isu lingkungan yang disoroti media internasional tersebut, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science memberikan peringatan keras bagi warga Indonesia.
Sayuran dan buah-buahan yang selama ini dianggap sebagai sumber serat sehat, kini terdeteksi mengandung polusi mikroplastik yang masif.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa partikel plastik berukuran di bawah 10 mikrometer telah menyusup ke dalam jaringan tanaman melalui tanah yang tercemar limbah, pupuk, hingga air irigasi.
Wortel dan Apel Paling Terpapar
Hasil studi menunjukkan data yang mengejutkan. Sayuran jenis umbi-umbian seperti wortel ternyata memiliki konsentrasi mikroplastik yang lebih tinggi dibandingkan sayuran berdaun seperti selada atau kol.
Baca Juga: Hukum Pakai Obat Tetes Mata saat Puasa Ramadhan, Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Menurut 4 Mazhab
"Apel merupakan sampel buah yang paling terkontaminasi, sementara wortel adalah sayuran yang paling banyak mengandung plastik," ungkap para peneliti dalam laporan tersebut. Secara rata-rata, satu gram apel mengandung sekitar 195.500 partikel plastik, disusul pir dengan 189.500 partikel, dan wortel serta brokoli yang menembus angka lebih dari 100.000 partikel per gram.
Transformasi Hijau di IKN
Di Kalimantan Timur sendiri, isu keberlanjutan menjadi napas utama pembangunan IKN. Pemerintah terus mendorong percepatan agar fungsi politik dapat berjalan penuh pada 2028.
Namun, kritikus dan kelompok lingkungan seperti Greenpeace mengingatkan bahwa tanpa manajemen limbah plastik yang ketat, visi "kota hutan" bisa terancam oleh polusi mikroskopis yang masuk ke rantai makanan.
Sion Chan, juru kampanye Greenpeace Asia Timur, memperingatkan bahwa kontaminasi ini sudah sampai pada tahap di mana setiap gigitan buah segar kemungkinan besar mengandung material plastik.
Baca Juga: Panduan Nutrisi Sahur, Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Tips bagi Anak yang Sedang Tumbuh
Bagi masyarakat Kaltim, temuan ini menjadi pengingat penting untuk lebih selektif dalam memilih sumber pangan dan mendukung upaya pengurangan sampah plastik, seiring dengan berubahnya wajah Kalimantan menjadi pusat pemerintahan baru yang modern dan (seharusnya) bebas polusi.(*)
Editor : Dwi Puspitarini