Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Waspada! Dua Jenis Minuman Populer Ini Perlahan Picu Risiko Kanker  

Ari Arief • Minggu, 17 Mei 2026 | 15:44 WIB
Ilustrasi dua minuman yang perlahan bisa memicu risiko kanker.(getty images)
Ilustrasi dua minuman yang perlahan bisa memicu risiko kanker.(getty images)

KALTIMPOST.ID, - Menikmati minuman segar favorit memang menjadi rutinitas harian yang menyenangkan bagi banyak orang.

Namun, di balik kesegaran tersebut, kita dituntut untuk lebih selektif. Pasalnya, beberapa jenis minuman yang kerap dikonsumsi sehari-hari justru menyimpan bahaya laten, bahkan mampu memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh.

Memahami dampak apa yang kita konsumsi terhadap kesehatan jangka panjang adalah langkah awal untuk investasi masa depan yang lebih sehat.

Minuman Manis: Bukan Sekadar Picu Obesitas

Minuman bersoda, jus buah kemasan, maupun minuman kekinian sering kali menjadi pelarian cepat saat tubuh membutuhkan pasokan energi atau sekadar pendongkrak suasana hati (mood). Namun, bahaya besar mengintai di balik rasa manisnya.

Pakar gastroenterologi lulusan Harvard, Dr. Saurabh Sethi, memperingatkan bahwa asupan tinggi gula tidak hanya melonjakkan kadar glukosa darah, tetapi juga memicu peradangan kronis di dalam tubuh yang dapat mempercepat perkembangan sel kanker.

Selaras dengan hal tersebut, riset mendalam yang dilakukan oleh Cancer Council Victoria bersama Melbourne University menguak fakta mengejutkan.

Setelah memantau lebih dari 35.000 partisipan selama 12 tahun, para peneliti menemukan bahwa ancaman kanker dari minuman manis tidak melulu berkaitan dengan masalah berat badan.

"Bahkan individu dengan berat badan ideal pun tetap mengantongi risiko kanker yang tinggi jika rutin menenggak minuman manis. Menariknya, risiko ini tidak ditemukan pada mereka yang memilih versi diet (rendah kalori). Ini membuktikan bahwa gula adalah musuh utamanya," jelas Associate Professor Allison Hodge dari Divisi Epidemiologi Cancer Council Victoria, Australia.

Sementara itu, CEO Cancer Council Victoria, Todd Harper, menambahkan bahwa minuman manis selama ini memang menjadi dalang utama obesitas—yang diketahui menjadi pemicu 13 jenis kanker berbeda.

Temuan baru ini diharapkan menjadi alarm keras bagi masyarakat untuk segera memangkas asupan gula harian.

Alkohol: Perusak DNA dan Pengganggu Hormon

Minuman lain yang wajib diwaspadai adalah alkohol. Dr. Sethi mengungkapkan, konsumsi alkohol meski dalam kadar rendah hingga sedang tetap dapat mendongkrak risiko kanker yang sensitif terhadap hormon, seperti kanker payudara dan kanker hati (liver).

Alkohol bekerja dengan cara mengacak-acak kadar estrogen serta menghambat kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi esensial seperti folat, yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan DNA.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) turut mempertegas bahwa kebiasaan menenggak alkohol berkaitan erat dengan munculnya sejumlah kanker mematikan, di antaranya  kanker mulut, tenggorokan (faring), dan pita suara (laring), kanker saluran pencernaan (usus besar dan rektum), kanker hati, payudara, lambung, hingga pankreas, peningkatan risiko kanker prostat pada pria.

Secara biologis, alkohol merusak tubuh dengan cara mengacaukan siklus sel normal, memicu inflamasi menahun, dan menghancurkan struktur DNA. Ketika DNA rusak, sel-sel tubuh akan tumbuh secara abnormal tanpa kendali hingga berubah menjadi tumor ganas.

Lantas, Benarkah Kopi Bisa Menangkal Kanker?

Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul anggapan bahwa rutin minum kopi bisa menjadi benteng pertahanan melawan kanker.

Menanggapi mitos ini, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi-Onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, memberikan klarifikasi. Menurutnya, kopi tidak bisa serta-merta diklaim sebagai obat pencegah kanker.

"Kopi itu berperan sebagai sumber antioksidan, bukan obat. Jadi, jangan salah kaprah bahwa dengan rajin minum kopi, kanker otomatis akan hilang atau menjauh," tegas Dr. Andhika.

Ia menjelaskan, konsumsi kopi hingga tiga cangkir sehari sifatnya hanyalah sebagai pendamping atau suplemen pelengkap berkat kandungan antioksidannya yang tinggi. Kendati demikian, kebiasaan ini tidak bisa diterapkan secara merata kepada semua orang.

"Ada catatan penting yang harus diperhatikan. Pasien tidak boleh memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi) atau gangguan lambung kronis. Jika mereka mengidap penyakit penyerta tersebut, terapi pelengkap dengan kopi ini jelas tidak dianjurkan," katanya.

Editor : Hernawati
#sel kanker #kanker #minuman