KALTIMPOST.ID – Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Di Kalimantan Timur, tren kasus mulai bergeser ke kelompok usia muda.
Dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Sangatta Kutai Timur, Muhammad Yusuf Aditya Prawira, mengaku menemukan semakin banyak pasien usia produktif dengan tekanan darah tinggi. “Kalau untuk sekarang ya, dari awal praktik sampai sekarang itu trennya bergeser ke usia muda,” ujarnya.
Menurut dr Yusuf, kondisi tersebut banyak dipengaruhi gaya hidup masyarakat, terutama di wilayah industri seperti Sangatta yang mayoritas warganya bekerja di sektor tambang. Jam kerja panjang membuat pola hidup masyarakat cenderung tidak sehat.
“Di Sangatta ini kan kebanyakan pekerja tambang. Jam kerjanya tinggi, sehari bisa 12 jam. Waktu istirahatnya agak kurang,” katanya.
Akibatnya, banyak orang menjalani sedentary lifestyle atau pola hidup minim aktivitas fisik. Seperti banyak makan, banyak ngemil, tidak bergerak atau tidak olahraga. Dia juga menyoroti meningkatnya angka obesitas sebagai faktor penting pemicu hipertensi.
Bahkan, obesitas kini sudah dianggap sebagai penyakit. “Awal sumber dari segala penyakit bisa dari obesitas itu,” sebut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (FK Unmul) tersebut.
Dari pengalaman menangani pasien muda, dr Yusuf menyebut mayoritas memiliki faktor risiko yang hampir serupa. Mulai dari berat badan berlebih, jarang olahraga, pola makan rendah serat, hingga kebiasaan merokok. Kurang tidur dan stres juga ikut berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Sementara konsumsi kopi dan rokok dapat memicu kenaikan tekanan darah sementara.
Baca Juga: Nyaris Kabur ke Gorontalo, Pelaku Curanmor di Masjid Sangkulirang Ditangkap di Tarakan
Dia mengingatkan hipertensi kerap dijuluki silent killer karena sering muncul tanpa gejala. Banyak pasien baru sadar setelah tekanan darahnya sudah tinggi. “Kalau secara umum biasanya tidak ada gejala. Makanya disebut silent killer,” tegasnya.
Kalaupun muncul keluhan, biasanya hanya berupa pusing, kepala terasa berat, atau leher terasa tegang. Gejala tersebut sering dianggap sepele karena mirip gangguan kesehatan ringan lainnya. Dia juga menyebut faktor hipertensi terbagi menjadi dua, yakni faktor yang tidak bisa diubah dan faktor yang dapat dikendalikan. Faktor yang tidak bisa diubah meliputi usia, jenis kelamin, dan genetik.
“Kalau laki-laki itu mungkin faktor hormon testosteron sama faktor pekerjaan. Kalau wanita biasanya lebih berisiko setelah menopause,” jelasnya. Sementara faktor yang dapat diubah antara lain merokok, konsumsi garam berlebih, obesitas, pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, hingga stres berkepanjangan.
Dia juga mengingatkan masyarakat mulai membatasi konsumsi makanan tinggi natrium seperti mi instan dan makanan ultra processed food (UPF). Sebab, kandungan garam dalam makanan tersebut sangat tinggi. “Kalau kita makan satu mi instan itu hampir 90 persen jatah natrium harian kita sudah habis,” bebernya.
Menurut dr Yusuf, kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan rutin juga masih rendah. Banyak orang baru datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami keluhan. “Kadang orang merasa saya enggak ada keluhan kok, saya sehat. Padahal sehat secara parameter kesehatan belum tentu benar-benar sehat,” tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo