Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Karena Turunan, Sekar dan Asiyah Belajar Bertahan serta Jaga Harapan

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:25 WIB
HIPERTENSI: Meski sudah menjalani pola hidup sehat seperti menjaga pola makan hingga rajin berolahraga, seseorang masih berpotensi mengalami hipertensi. Salah satunya karena faktor turunan.
HIPERTENSI: Meski sudah menjalani pola hidup sehat seperti menjaga pola makan hingga rajin berolahraga, seseorang masih berpotensi mengalami hipertensi. Salah satunya karena faktor turunan.

KALTIMPOST.ID - Bagi sebagian orang, hipertensi bukan sekadar angka pada alat pengukur tekanan darah, melainkan perjuangan panjang yang memengaruhi aktivitas, emosi, hingga kualitas hidup sehari-hari. 

Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Sekar Anggrahini (25), seorang ibu rumah tangga dari Balikpapan Utara. Ia tak pernah menyangka mengidap hipertensi hingga momen kelahiran anak pertamanya tiga tahun lalu.

Saat menjalani proses persalinan, dokter menemukan tekanan darah Sekar berada di angka tinggi. Dari situlah ia mulai mengetahui bahwa dirinya memiliki hipertensi yang ternyata juga diturunkan dari keluarga sang ibu dan neneknya. “Awalnya saya tidak tahu kalau punya hipertensi. Baru ketahuan waktu melahirkan anak pertama,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Sekar mulai akrab dengan pemeriksaan tekanan darah rutin dan konsumsi obat-obatan. Ia mengaku, ketika tekanan darah meningkat, tubuhnya memberikan tanda yang cukup mengganggu. “Kepala terasa seperti ditekan dan sakit sekali. Badan juga lemas, rasanya tidak nyaman untuk beraktivitas,” katanya.

Baca Juga: 371 Ribu Warga Kaltim Diperkirakan Idap Hipertensi, Samarinda Tertinggi

Tidak hanya menyerang kondisi fisik, hipertensi juga berdampak pada emosinya. Sekar mengaku lebih mudah tersulut emosi ketika tekanan darahnya naik. “Kalau tekanan darah tinggi, emosi juga jadi tidak stabil. Kadang gampang marah,” tuturnya.

Untuk mengendalikan hipertensi, dokter memberinya dua jenis obat yakni Dopamet dan Aspilets yang harus dikonsumsi secara rutin. Apalagi kini Sekar tengah mengandung anak keduanya, sehingga risiko kesehatannya semakin besar.

Tekanan darahnya bahkan pernah mencapai 158/80. Ketika kondisi itu terjadi, ia kerap dirujuk ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Dokter terus mengingatkan agar ia tidak menghentikan konsumsi obat karena kondisinya berisiko preeklamsia, komplikasi kehamilan yang dapat membahayakan ibu maupun janin.

Selain obat hipertensi, Sekar juga mendapatkan tambahan vitamin dan pengawasan rutin selama masa kehamilan. Kisah serupa juga dialami Asiyah Nur, seorang guru di sekolah swasta di Balikpapan. Perempuan 37 tahun itu mulai mengetahui dirinya menderita hipertensi ketika berusia 30 tahun.

Baca Juga: Hipertensi Bisa Berujung Stroke, Dokter Ingatkan Pentingnya Skrining Rutin

Sama seperti Sekar, faktor genetik menjadi penyebab utama penyakit yang dialaminya. Meski begitu, Asiyah mengaku cukup terkejut karena selama ini dirinya merasa telah menjalani pola hidup yang sehat. “Saya sebenarnya menjaga pola makan. Tidak terlalu banyak makan asin atau manis, dan juga rutin olahraga,” ujarnya.

Namun hipertensi tetap datang tanpa banyak peringatan. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa tekanan darah tinggi tidak hanya menyerang mereka yang memiliki pola hidup buruk, tetapi juga bisa muncul akibat faktor keturunan.

Menurutnya, banyak orang sering menganggap hipertensi sebagai penyakit ringan. Padahal jika diabaikan, dampaknya dapat berbahaya bagi kesehatan jantung, ginjal, hingga pembuluh darah. Ia kini lebih disiplin memeriksakan kesehatan dan menjaga kondisi tubuh agar tekanan darah tetap stabil.

Tenaga kesehatan sendiri terus mengingatkan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga. Sebab faktor genetik memiliki pengaruh besar terhadap risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi.

Selain itu, menjaga pola makan, mengurangi konsumsi garam berlebihan, rutin berolahraga, mengelola stres, serta tidak menghentikan obat tanpa anjuran dokter menjadi langkah penting untuk mengendalikan hipertensi.

Baca Juga: Hipertensi di Kaltim Bergeser ke Usia Muda, Dokter Soroti Sedentary Life

Bagi ibu hamil, pengawasan kesehatan menjadi jauh lebih penting karena hipertensi dapat berkembang menjadi preeklamsia. Kondisi tersebut dapat memicu komplikasi serius seperti gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga ancaman keselamatan ibu.

Di tengah aktivitas sebagai ibu rumah tangga maupun pendidik, Sekar dan Asiyah kini belajar hidup berdampingan dengan hipertensi. Mereka berharap pengalaman yang dialami dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mengabaikan kesehatan, terutama memeriksa tekanan darah sejak dini. “Kadang orang merasa sehat-sehat saja, padahal tekanan darahnya tinggi. Jadi memang harus rutin cek kesehatan,” kata Asiyah. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#hipertensi turunan #hipertensi ibu hamil #silent killer #tekanan darah tinggi #kesehatan jantung