KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh diskusi hangat mengenai dampak psikologis terhadap kesehatan fisik. Salah satu narasi yang paling menyita perhatian adalah anggapan bahwa emosi yang dipendam secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko terserang penyakit kanker.
Menanggapi fenomena tersebut, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, membenarkan adanya keterkaitan tersebut. Kendati demikian, ia meluruskan bahwa tidak semua jenis emosi yang dipendam serta-merta menjadi pemantik kanker.
"Tapi, mana yang akan berwujud pada kanker? Yang kalau sampai mengakibatkan luapan emosi, itu jadi depresi, stres, dan stresnya yang bukan stres harian yang kita dapatkan," kata dr. Andhika saat ditemui media massa dalam acara The 6th Siloam Oncology Summit di Shangri-La Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026).
Lebih dalam dr. Andhika memaparkan mekanisme biologis di balik fenomena ini. Ketika seseorang jatuh ke dalam fase depresi, tubuh secara otomatis akan melepaskan zat kimia yang disebut sitokin pro-inflamasi. Zat inilah yang kemudian memicu terjadinya inflamasi atau peradangan kronis di dalam tubuh.
Peradangan tersebut lambat laun mengakibatkan kenaikan suhu pada jaringan tubuh tertentu. Kondisi ini mengubah lingkungan internal sel (environment), yang pada akhirnya memaksa beberapa sel mengalami perubahan struktural secara genetik.
"Akibatnya terjadi kerusakan, mulai ada kerusakan genetik. Di situlah, kalau gennya terganggu kemudian terjadi perubahan protein yang berwujud kepada jadinya keganasan," ungkapnya secara gamblang.
Meski mekanismenya nyata, dr. Andhika mengimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan. Ia menegaskan bahwa proses perubahan sel sehat menjadi sel kanker akibat faktor psikologis tidak terjadi dalam sekejap, melainkan melalui proses dan waktu yang sangat panjang.
Selain faktor emosi, munculnya kanker juga sangat dipengaruhi oleh akumulasi faktor risiko lain, seperti gaya hidup yang tidak sehat hingga faktor genetika atau keturunan.
Sebagai langkah preventif, dr. Andhika mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan mental dan fisik secara sederhana guna memutus rantai risiko tersebut.
"Pencegahannya dengan kontrol stres dan jangan lupa olahraga, main-main jalan-jalan juga itu penting untuk bantu (mencegah)," katanya.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko