Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Indonesia Berpeluang Cetak Sejarah, Kembangkan Vaksin mRNA DBD Pertama di Dunia

Ari Arief • Rabu, 8 Juli 2026 | 16:49 WIB
Ilustrasi RI bakal punya Vaksin mRNA Dengue pertama di dunia.(generate ai)
Ilustrasi RI bakal punya Vaksin mRNA Dengue pertama di dunia.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Indonesia menapaki langkah signifikan dalam dunia kesehatan global. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan tengah mengawal pengembangan vaksin berbasis messenger RNA (mRNA) untuk penyakit demam berdarah dengue (DBD). Vaksin inovatif ini digadang-gadang berpotensi menjadi yang pertama di dunia.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menegaskan komitmen lembaganya untuk memberikan dukungan penuh agar vaksin tersebut dapat segera memasuki tahap uji klinis hingga nantinya dapat digunakan masyarakat luas.

Baca Juga: Langgar Disiplin, Kontrak Satu ASN PPPK Kemenag PPU Diputus

"Dalam hal pengembangan vaksin, BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan. Kita akan membuat sejarah, ini mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," ujar Taruna dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, pengembangan vaksin dengue menjadi prioritas lantaran hingga saat ini belum tersedia terapi yang benar-benar spesifik untuk menangani penyakit tersebut. Taruna berkaca dari pengalamannya saat menempuh pendidikan spesialis di University of California, Irvine. Saat itu, ia mendapati bahwa rekan sejawatnya di luar negeri kesulitan menangani pasien dengue karena minimnya pengalaman, berbeda dengan tenaga kesehatan di Indonesia yang lebih terbiasa menangani kasus serupa.

Baca Juga: Resmi Jadi PNS Penuh, Kemenag PPU Gelar Syukuran Sekaligus Lepas 4 ASN Purna Tugas

Indonesia sebagai Hub Riset Strategis

Pengalaman tersebut, lanjut Taruna, membuktikan bahwa Indonesia merupakan tempat yang strategis untuk pengembangan riset dengue. Tingginya angka kasus di tanah air membuat tenaga kesehatan dan peneliti lokal memiliki pengalaman klinis yang mumpuni.

"Kalau ini berhasil, bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, tapi seluruh dunia akan berdampak," ungkapnya.

Baca Juga: Ada Kesempatan Saat Melintas, Alat Bengkel Dicuri

Terkait perannya sebagai regulator, Taruna memastikan BPOM akan mengawal ketat agar vaksin memenuhi tiga syarat utama: aman, efektif, dan memiliki standar mutu yang baik. Namun, ia menekankan bahwa BPOM tidak akan pasif dalam proses ini.

"Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," tegasnya.

Baca Juga: PLN Janji Akhiri Pemadaman Bergilir 13 Juli, Samri: Semoga Tidak Meleset

Hasil Praklinis Menjanjikan

Sementara itu, pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, memaparkan bahwa saat ini penelitian vaksin tersebut masih berada pada tahap uji praklinis. Meski demikian, data awal menunjukkan respons imun yang signifikan.

"Dari hasil uji praklinis, titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia ternyata jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," jelas Beti.

Baca Juga: Polwan Bid Propam Blusukan Ke Kampung, Ini Yang Dibagikan

Beti menargetkan, dalam enam bulan ke depan, penelitian dapat berlanjut ke tahap pengujian efikasi pada subjek di Indonesia.

"Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa melihat efikasinya pada subjek di Indonesia. Semoga hasilnya seimbang dengan hasil pre-clinical trial," pungkasnya.

Baca Juga: DLH Soroti Aspek Lingkungan Sekolah Rakyat, Potensi Banjir Intai Kawasan 

Hingga saat ini, vaksin tersebut masih memerlukan serangkaian pengujian panjang, termasuk uji klinis, sebelum nantinya diproduksi massal dan diedarkan kepada masyarakat. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, inovasi ini diprediksi menjadi tonggak sejarah baru bagi teknologi vaksin, baik di tingkat nasional maupun internasional.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#vaksin #dunia #kesehatan #dbd