Pakar Gizi IPB Ungkap Telur Ceplok atau Telur Dadar yang Lebih Sehat, Ini Perbedaan Kalori, Lemak, dan Kolesterol

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 07:02 WIB
Grafis Kaltim Post
Grafis Kaltim Post

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Telur menjadi salah satu menu favorit saat sarapan karena praktis diolah, rasanya lezat, dan kaya nutrisi. Namun, banyak yang bertanya-tanya, mana yang lebih sehat antara telur ceplok dan telur dadar?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa secara umum kedua jenis olahan telur tersebut memiliki nilai gizi yang hampir sama. Perbedaan utamanya justru berasal dari proses memasak dan bahan tambahan yang digunakan.

Menurutnya, telur dadar cenderung memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi. Penyebabnya, telur dadar biasanya menyerap lebih banyak minyak saat digoreng.

Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Berpeluang Turun Lagi pada Agustus 2026, Bahlil: Sedang Dikaji

Selain itu, banyak orang menambahkan bahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang yang membuat kandungan energinya meningkat.

Sebaliknya, telur ceplok umumnya menggunakan lebih sedikit bahan tambahan sehingga jumlah kalorinya bisa lebih rendah, terutama jika dimasak dengan sedikit minyak.

Karina menjelaskan, memasak telur juga memberikan manfaat karena membuat protein lebih mudah diserap tubuh. Protein dalam telur matang memiliki tingkat penyerapan yang jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah.

Meski demikian, proses memasak sebaiknya tidak menggunakan suhu terlalu tinggi dalam waktu lama. Pemanasan berlebihan dapat merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas nutrisi telur.

Untuk menjaga kandungan gizinya, suhu memasak yang dianjurkan berada pada kisaran 60 hingga 80 derajat Celsius.

Bagi masyarakat yang sedang menjalani program penurunan berat badan atau menjaga pola makan sehat, metode memasak tanpa minyak seperti merebus, mengukus, atau membuat poached egg menjadi pilihan yang lebih baik.

Namun, bukan berarti telur ceplok maupun telur dadar harus dihindari. Keduanya tetap dapat dikonsumsi selama penggunaan minyak dibatasi, misalnya dengan memanfaatkan wajan antilengket atau minyak semprot.

Karina juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur selalu menyebabkan kolesterol tinggi. Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung.

Baca Juga: Biaya Naturalisasi WNA Jadi WNI Resmi Naik Jadi Rp75 Juta, Berlaku Mulai Agustus 2026

Kenaikan kadar kolesterol darah justru lebih sering dipicu oleh pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Karena itu, telur tetap layak menjadi bagian dari menu bergizi seimbang, asalkan diolah dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan dalam penggunaan minyak maupun bahan tambahan.

Editor : Uways Alqadrie
pakar gizi di IPB kandungan gizi telur telur dadar ipb makanan sehat