KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Penyakit autoimun kini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut. Generasi muda di rentang usia produktif, yakni 20 hingga 40 tahun, kini berisiko tinggi mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh tersebut. Selain faktor genetik, stres kronis yang tidak tertangani dengan baik ditengarai menjadi pemantik utama serangan autoimun pada usia muda.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Autoimun, dr. Steven Sumantri, SpPD, K-AI, DAA, FINASIM, menjelaskan bahwa kekebalan tubuh yang berbalik menyerang organ sendiri kerap dipicu oleh paparan stres berkepanjangan.
"Pada saat kita mengalami stres kronik, tubuh cenderung meradang. Pikiran yang menumpuk membuat sulit tidur, sehingga peradangan di dalam tubuh meningkat. Adrenalin dan hormon kortisol yang melonjak memicu inflamasi lebih lanjut," ujar dr. Steven.
Lingkaran Setan Stres dan Autoimun
Hubungan antara stres dan autoimun dinilai menyerupai lingkaran setan. Stres berlebih memicu timbulnya penyakit, sementara munculnya penyakit itu sendiri kembali menciptakan tekanan mental bagi penderitanya.
Data dari Global Autoimmune Institute mencatat, hingga 80 persen pasien melaporkan adanya peristiwa stres emosional yang tidak biasa sebelum penyakit autoimun mereka terdeteksi untuk pertama kalinya.
Studi berskala besar terhadap lebih dari 100.000 orang dengan gangguan terkait stres juga menunjukkan bahwa mereka memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk terdiagnosa penyakit autoimun—bahkan mengidap lebih dari satu jenis penyakit secara bersamaan—dibandingkan mereka yang bebas dari stres berat.
Usia Produktif Paling Rentan
Saat ini, estimasi penderita autoimun di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1 dari 10 orang. Puncak ancaman ini justru berada pada kelompok usia 20 hingga 40 tahun, masa yang seharusnya menjadi periode paling produktif. Peradangan akibat stres yang dibiarkan tanpa kendali berpotensi merusak berbagai fungsi organ secara permanen hingga berisiko fatal jika terlambat ditangani.
Beberapa jenis penyakit autoimun yang terbukti memburuk atau terpicu akibat stres di antaranya:
-
Lupus (Systemic Lupus Erythematosus / SLE): Stres memicu flare yang memperparah nyeri fisik, ruam, dan gangguan tidur.
-
Artritis Reumatoid (RA): Respons stres memperberat rasa kaku dan nyeri peradangan pada area persendian.
-
Multiple Sclerosis (MS): Kerusakan selaput pelindung saraf otak dan tulang belakang, di mana 80 persen penderitanya didahului oleh stres berat.
-
Psoriasis: Stres berlebih memicu rasa gatal intens serta mempercepat pembelahan sel kulit hingga bersisik.
-
Inflammatory Bowel Disease (IBD): Peradangan saluran cerna yang sangat sensitif terhadap tekanan emosional.
-
Graves' Disease & Autoimun Tiroid: Lonjakan hormon stres secara langsung mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan memicu hipertiroidisme.
Mengingat tingginya risiko kerusakan organ, para kawula muda diimbau untuk lebih bijak mengelola kesehatan mental dan pola hidup guna mencegah munculnya paparan stres kronis sejak dini.(*)
Editor : Thomas Priyandoko