KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Tekanan darah tinggi atau hipertensi kian menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Dijuluki sebagai silent killer, penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala awal namun dapat memicu komplikasi fatal seperti penyakit jantung hingga stroke, yang sering kali dipicu oleh kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat lonjakan kasus hipertensi yang cukup signifikan. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, mengungkapkan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin karena kondisi fisik seseorang dapat berubah drastis dalam waktu relatif singkat.
Berdasarkan data peserta program Cek Kesehatan Gratis (CKG), dari sekitar 30 juta orang yang dinyatakan bebas hipertensi pada 2025, sebanyak 9,2 juta di antaranya kembali memeriksakan diri pada 2026. Hasilnya, 1 juta orang dari kelompok tersebut kini terdiagnosis mengalami tekanan darah tinggi.
"Tahun lalu 30 juta diperiksa tidak bermasalah. Dari yang sudah kembali diperiksa tahun ini, ternyata satu juta menjadi hipertensi. Ini menunjukkan kenapa cek kesehatan harus dilakukan setiap tahun," ujar Endang.
Para pakar kesehatan mengingatkan setidaknya ada enam kebiasaan harian yang kerap diabaikan namun berisiko tinggi memicu hipertensi:
-
Konsumsi Makanan Olahan (Ultra-Processed Food/UPF)
Profesor kedokteran kardiovaskular di McGovern Medical School UT Health Houston, John P. Higgins, MD, MBA, menjelaskan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh dan makanan olahan memicu disfungsi endotel serta kenaikan berat badan yang berujung pada hipertensi.
-
Asupan Gula Berlebih
Ahli jantung di JFK University Medical Center, Aaron Feingold, MD, menyebutkan konsumsi gula tinggi memicu resistensi insulin dan merusak dinding pembuluh darah, sehingga elastisitas pembuluh darah menurun.
-
Stres Kronis
Tekanan pekerjaan, relasi, maupun finansial memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin yang menyempitkan pembuluh darah serta mempercepat detak jantung.
-
Kurang Tidur
Durasi tidur kurang dari tujuh jam secara konsisten mengganggu keseimbangan hormon, mengaktifkan jalur stres tubuh, dan berkontribusi terhadap hipertensi resisten.
-
Gaya Hidup Kurang Bergerak (Sedentary)
Terlalu banyak duduk menyebabkan kekakuan pembuluh darah dan membebani sistem kardiovaskular. Olahraga aerobik secara teratur disarankan karena terbukti menurunkan tekanan sistolik dan diastolik rata-rata 5–8 mmHg.
-
Kurang Minum Air Putih
Dehidrasi ringan memaksa jantung bekerja lebih berat memompa darah. Spesialis penyakit dalam, dr. Aru Ariadno, Sp.PD-KGEH, mengimbau orang dewasa mencukupi kebutuhan hidrasi sekitar 2 liter atau delapan gelas per hari guna menjaga kelancaran sirkulasi darah.(*)