KALTIMPOST.ID - Stroke menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Meski dapat terjadi secara tiba-tiba, risiko stroke dapat ditekan dengan mengendalikan faktor risiko, salah satunya melalui pola makan sehat.
World Stroke Organization (WSO) menyebut hampir 90 persen kasus stroke dapat dicegah dengan mengendalikan berbagai faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat.
Sejumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari dapat memperburuk faktor-faktor tersebut apabila dikonsumsi terlalu sering dan dalam jangka panjang.
Karena itu, makanan tinggi garam, lemak jenuh, gula, serta makanan ultra-proses sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Baca Juga: 6 Jenis Makanan Ini Sebaiknya Dihindari sebelum Oral Sex
7 Makanan yang Perlu Dibatasi untuk Menurunkan Risiko Stroke
Ada tujuh jenis makanan yang perlu diperhatikan karena kandungan garam, gula, lemak, atau kalorinya dapat berkontribusi terhadap faktor risiko stroke jika dikonsumsi secara berlebihan.
1. Makanan tinggi garam
Mi instan, ikan asin, makanan ringan gurih, makanan cepat saji, dan sejumlah makanan kemasan dapat mengandung natrium tinggi. Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, sementara hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama stroke.
2. Gorengan
Gorengan yang terlalu sering dikonsumsi dapat meningkatkan asupan lemak dan kalori. Penggunaan minyak secara berulang juga perlu diperhatikan. Sebagai alternatif, makanan dapat dipanggang, dikukus, atau ditumis dengan minyak secukupnya.
3. Daging olahan
Sosis, nugget, kornet, dan daging asap umumnya mengandung garam serta lemak cukup tinggi. Konsumsinya secara berlebihan dapat menjadi bagian dari pola makan yang kurang baik bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
4. Makanan dan minuman tinggi gula
Teh manis, minuman bersoda, kopi siap minum, serta makanan kemasan dapat menjadi sumber gula tambahan. Konsumsi gula berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.
5. Makanan cepat saji
Burger, pizza, ayam goreng tepung, dan kentang goreng umumnya tinggi kalori, natrium, dan lemak, tetapi relatif rendah serat. Jika terlalu sering dikonsumsi, pola makan tersebut dapat berkontribusi terhadap tekanan darah dan kolesterol tinggi serta berat badan berlebih.
Baca Juga: Cari Minuman Tinggi Protein? Ini 10 Pilihan Praktis yang Cocok untuk Sehari-hari
6. Daging merah berlemak
Daging merah tetap dapat dikonsumsi sebagai sumber protein. Namun, bagian daging yang tinggi lemak jenuh sebaiknya dibatasi karena dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL yang berkaitan dengan penyakit pembuluh darah.
7. Makanan tinggi natrium dan bumbu instan
Makanan siap saji, mi instan, serta makanan ringan dapat menyumbang natrium dalam jumlah cukup tinggi. MSG sendiri umumnya aman dalam batas wajar, tetapi jumlah natrium dari seluruh makanan yang dikonsumsi dalam sehari tetap perlu diperhatikan.
Pola Makan Sehat Membantu Menekan Risiko Stroke
Mengurangi risiko stroke tidak berarti harus menghindari satu jenis makanan secara mutlak. Yang lebih penting adalah memperbaiki pola makan secara keseluruhan dan membatasi makanan yang tinggi garam, gula, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses.
Sebagai gantinya, konsumsi sayuran, buah, biji-bijian, dan sumber protein yang lebih sehat dapat diperbanyak. Cara memasak juga dapat diperhatikan dengan memilih metode seperti mengukus atau memanggang dan mengurangi penggunaan garam maupun minyak.
Selain pola makan, aktivitas fisik, menjaga berat badan, tidak merokok, serta memantau tekanan darah dan kolesterol secara berkala juga berperan dalam menekan faktor risiko stroke.
Dengan demikian, menjaga pola makan sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mempertahankan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Membatasi makanan tinggi garam, gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses dapat membantu mengendalikan sejumlah faktor yang berkaitan dengan risiko stroke.***
Editor : Dwi Puspitarini