Warm Chain yang Belum Utuh, Ketersedaiaan Ruang Laktasi Belum Sesuai Harapan

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:46 WIB
dr Nanan Surya Perdana SpA, Konselor Menyusui
dr Nanan Surya Perdana SpA, Konselor Menyusui

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Beragam aturan telah dikeluarkan pemerintah untuk mendukung ibu memberikan ASI eksklusif kepada bayi. Baik di perusahaan tempat kerja hingga fasilitas umum. Namun, kenyataan di lapangan sering kali jauh dari harapan.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 Wita ketika Memey merasa payudaranya penuh dan berat, terasa hangat dan sedikit berdenyut. Ia tahu itu saatnya memompa ASI, padahal 3 jam yang lalu dia baru saja menghasilkan 200 mililiter pertamanya hari itu.

Sambil mengerjakan laporan harian, Memey sigap mempersiapkan apron dan set alat pompa elektrik. Beberapa waktu kemudian suara "jrut-jrut-jrut" memenuhi ruangan yang sebelumnya sepi.

"Ih, Mbak lagi pumping ya?,” celetuk seorang rekan kerja. Memey, perempuan yang telah menginjak kepala tiga itu hanya tertawa kecil menjawab “Iya,” sambil sebenarnya menahan rasa tak enak dam malu.

Baca Juga: Harga Semen di Sumut Melonjak 40 Persen, KPPU Telusuri Rantai Distribusi

"Awal-awalnya malu kalau ditegur, walaupun itu sesama pekerja perempuan,” katanya, mengenang masa-masa ia harus memerah ASI di tengah jam kantor, tanpa ruang tertutup, tanpa privasi.

Memey mulai memompa ASI tiga bulan setelah melahirkan anak keduanya, Ken, bertepatan dengan hari pertamanya kembali bekerja. Ia sudah lebih dulu belajar caranya lewat tutorial di YouTube, tapi teori dan praktik ternyata dua hal berbeda.

Ia harus disiplin dengan waktu yakni tiap pukul 11.00, 13.00, 15.00, bisa tiga sampai empat jam sekali selama waktu bekerja. "Kalau enggak dipompa dada sakit dan ASI bisa berkurang," ujarnya. ASI hasil pompa lalu disimpan di kulkas kantor untuk nanti dibawa pulang, kadang ASI-nya dijemput sang keponakan atau anggota keluarga lainnya ketika stok di rumah menipis untuk sang bayi.

Cerita semacam ini, menurut dr Nanan Surya Perdana, SpA, konselor menyusui yang telah menekuni bidangnya sejak 2014, bukan pengecualian. Ia mengaku kerap mendengar pengalaman serupa dari ibu-ibu yang ia dampingi, memerah ASI di sudut-sudut yang sebenarnya tidak dirancang untuk itu, biasanya musala, kamar mandi atau seperti Memey, di depan komputer sendiri.

Baca Juga: KPPU Ingatkan Perusahaan Antisipasi Risiko Persaingan Usaha Sejak Dini

"Selama ini kita masih sering mendengar ada ibu yang memerah ASI di musala. Bahkan ada juga yang melakukannya di toilet. Bukan karena mereka mau, tetapi karena memang tidak tersedia tempat yang layak," katanya.

Kisah-kisah kecil semacam itulah yang sebenarnya ingin disorot lewat peringatan Pekan Menyusui Sedunia atau World Breastfeeding Week, yang jatuh setiap 1 hingga 7 Agustus. Tahun ini, temanya adalah "Menyusui untuk Awal Kehidupan Berkelanjutan: Perkuat Apa yang Sudah Terbukti Berhasil".

Dari tema tersebut dr Nanan melihatnya sebagai ajakan untuk kembali menoleh ke hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah lama diketahui bekerja, tapi belum sepenuhnya dijalankan, termasuk soal ruang, waktu dan rasa aman bagi ibu bekerja seperti Memey.

RANTAI YANG TAK CUMA MELIBATKAN IBU

Bagi kebanyakan orang, menyusui barangkali terdengar seperti urusan pribadi antara ibu dan bayinya. Tapi dr Nanan punya pandangan berbeda. Ia menyebutnya sebagai warm chain, rantai hangat yang melibatkan jauh lebih banyak pihak dari pada yang dibayangkan orang.

"Yang paling dekat adalah ayah. Sedikit lebih jauh lagi ada kakek dan nenek. Kalau ibunya bekerja, berarti tempat kerjanya juga ikut berperan. Lebih luas lagi masyarakat di sekitar," ujarnya.

Baca Juga: Astra UD Trucks Gandeng Trans Migasindo Perkuat Servis, Bantu Tingkatkan Produktivitas

Rantai ini menjalar lebih jauh lagi yakni ke pemerintah, ke perusahaan, ke para pemegang kebijakan. Dokter, bidan, bahkan tokoh agama, semuanya menurut dr Nanan punya peran dalam menjaga rantai itu tetap hangat, sampai bayi berhasil disusui eksklusif enam bulan dan dilanjutkan hingga usia dua tahun.

Memey membuktikan sendiri betapa besarnya pengaruh rantai itu dan betapa berbedanya hasil ketika salah satu mata rantainya putus. Pada anak pertamanya, Acah, ia hanya mampu menyusui selama tiga minggu. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak ada yang mendampingi dan waktu itu dalam masa berkabung karena salah satu keluarganya wafat, berdekatan dengan hari kelahiran.

Waktu itu, Memey merasa kurang dukungan oleh keluarga dan sempat merasa tertekan. "Intinya, ASI itu harus ada yang support systemnya. Memang harus ada," ujarnya. Situasinya berbeda jauh ketika Ken lahir. Kali ini Memey lebih siap, ia rutin memanggil bidan untuk pijat laktasi sebulan sekali selama masa cutinya, sesuatu yang sama sekali tak ia dapatkan dulu.

Baca Juga: Menggali Satu Lubang, Menutup Lubang Lain: Catatan atas Dinamika Anggaran IKN, MBG, dan Transfer ke

Hasilnya, ia berhasil menyusui Ken hingga lebih bahkan sampai saat ini saat Ken hampir menginjak 2 tahun. "Perjuangan. Bisa dua tahun, loh," katanya. Walaupun diakuinya beberapa bulan ke belakang Ken sudah menerima susu formula, sebagai tambahan.

Ia meyakini perbedaan itu berdampak pada kesehatan kedua anaknya. "Kalau Ken jarang sakit," ujarnya, membandingkan Ken dengan Acha.

Klaim dr Nanan soal manfaat dukungan sejalan dengan pengalaman Memey. Ia mengutip penelitian yang menyebut ibu dengan pengetahuan baik soal menyusui punya peluang 2,7 kali lebih besar mempertahankan ASI eksklusif hingga enam bulan. Dukungan keluarga menaikkan peluang keberhasilan itu menjadi 2,5 kali lipat.

Menyusui, tambahnya, juga diyakini meredam risiko postpartum depression yakni kondisi yang pada sebagian kecil ibu bahkan bisa memicu keinginan menyakiti bayinya sendiri.

Ada satu klaim lagi yang menurut dr Nanan jarang terdengar: menyusui punya zero carbon footprint. "Susu formula diproduksi di pabrik. Proses produksinya menghasilkan asap, menghasilkan karbon dan memberikan dampak terhadap lingkungan. Sedangkan ASI sendiri tidak memiliki dampak terhadap lingkungan," katanya.

TREN MEMBAIK, TAPI BELUM CUKUP

Secara statistik, Kaltim sebenarnya termasuk provinsi dengan capaian ASI eksklusif yang cukup baik dibanding daerah lain. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik, persentase bayi di bawah enam bulan yang mendapat ASI eksklusif di Kaltim tercatat 80,09 persen pada 2025, naik dari 75,87 persen pada 2021, 76,58 persen pada 2022, 77,70 persen pada 2023, hingga 78,38 persen pada 2024.

Baca Juga: DPK Syariah Kaltim Tumbuh 0,26 Persen, Porsi Tembus 8,70 Persen

Angka itu jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 72,13 persen dan menjadikan Kaltim salah satu dari sedikit provinsi yang menembus angka 80 persen, setara dengan Sulawesi Barat (80,84 persen) dan di bawah DI Yogyakarta yang mencatatkan capaian tertinggi se-Indonesia, 85,08 persen.

Namun tren positif di level provinsi ini tidak serta-merta menggambarkan kemudahan yang dirasakan setiap ibu di lapangan, seperti yang dialami Memey. Sebab, di balik angka yang terus merangkak naik itu, dukungan konkret di tempat kerja, ruang, waktu dan rasa aman untuk memerah ASI masih jadi PR yang belum tuntas.

RUANG YANG BELUM SUNGGUH-SUNGGUH DISEDIAKAN

Ironi mulai muncul ketika bicara soal dukungan tempat kerja. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui, sebenarnya sudah mewajibkan perusahaan menyediakan fasilitas bagi ibu menyusui, termasuk ruang laktasi dan waktu untuk memerah ASI.

Baca Juga: Aturan Jam Operasional Truk di Balikpapan Makin Ketat, Dishub dan Polresta Siapkan Penindakan

Tapi kenyataan di lapangan, menurut dr Nanan, sering kali jauh dari amanat itu. "Harapan undang-undang memang seperti itu. Namun pada kenyataannya, belum sepenuhnya dapat diterapkan," ujarnya.

Pengalaman Memey menjadi contoh nyata dari kesenjangan itu. Di kantornya memang tersedia beberapa ruangan yang bisa dipakai untuk memerah ASI, tapi bukan peruntukannya. Pada praktiknya, ia lebih sering memompa langsung di depan komputer, di ruang kerja terbuka, karena alasan waktu dan kepraktisan.

Alhasil, suara mesin pompa dan rasa malu jadi bagian dari rutinitasnya sehari-hari selama lebih dari setahun. Maka dari itu, pojok laktasi atau ruang menyusui harusnya hadir di tempat-tempat kerja, kantor atau fasilitas umum lainnya.

Kebutuhan itu, menurut Memey, tak berhenti di tempat kerja saja. Pengalamannya membawa Ken ke pusat perbelanjaan pun membuatnya sadar betapa minimnya fasilitas serupa di ruang publik.

"Aku pernah ke Big Mall bawa dia. Aku bingung mau menyusui di mana. Masa kita harus nutup begini baru dia menyusu? Kan enggak enak," katanya. Menurutnya, satu pojok laktasi yang biasa ada di dekat musala saja tidak cukup. "Kalau bisa di tiap lantai. Jangan cuma satu tempat," ujarnya, menegaskan pentingnya fasilitas itu sebagai kebutuhan wajib, bukan pelengkap.

Baca Juga: FKUB Samarinda Naikkan Level Kerukunan, Sasar Generasi Muda

KELERENG, BOLA BEKEL DAN KEKHAWATIRAN YANG TAK SELALU BERALASAN

Dari pengalamannya sebagai konselor, dr Nanan mencatat tiga keluhan yang paling sering ia dengar dari ibu-ibu baru yang merasa ASI-nya tidak cukup, puting yang lecet dan berat badan bayi yang dianggap tak kunjung naik.

Soal produksi ASI yang dianggap seret, Memey punya siasatnya sendiri yakni disiplin jam pompa setiap tiga sampai empat jam, ditambah suplemen pelancar ASI. "Aku juga sambil minum ASI booster," katanya.

Ia mengaku merasakan efeknya, Namun ia juga mengakui, hasil pompanya perlahan menyusut seiring waktu, dari sempat mencapai sekitar 200 mililiter di awal, hingga jauh berkurang setelah lebih dari setahun memompa, sampai akhirnya ia memutuskan berhenti total di awal tahun ini.

Soal ASI yang dianggap kurang secara umum, dr Nanan punya cara menjelaskan yang sederhana tapi mengena. Bayi yang menangis, katanya, sering langsung diterjemahkan sebagai tanda ASI kurang, padahal belum tentu.

Baca Juga: Pajak Makan-Minum Bontang Tembus Rp15,38 Miliar, Bapenda Nilai Masih Menjanjikan

"Kalau bayi baru berumur satu hari, ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng. Pada usia tiga hari kira-kira sebesar bola bekel. Ketika berusia sekitar sepuluh hari, baru sebesar bola tenis meja," ujarnya.

Bukan berarti susu formula haram digunakan, dr Nanan menegaskan produk itu tetap punya tempatnya, seperti yang akhirnya dijalani Memey untuk Ken sejak usia satu tahun. Asal melalui pertimbangan matang, bukan keputusan tergesa.

Ia menganjurkan pemberiannya lewat sendok, pipet, atau gelas kecil (bukan dot/botol susu)supaya bayi tetap mengenali payudara ibunya dan tidak kehilangan minat untuk menyusu langsung, sesuatu yang menurut pengakuan Memey berhasil ia jaga, Ken tetap menyusu langsung di malam hari meski sudah mengenal susu formula di siang hari.

"PELUKAN ITU TIDAK BISA DIBELI"

Bagi dr Nanan, seluruh persoalan menyusui pada akhirnya bermuara pada satu hal yang menurutnya sering terlewat di tengah perdebatan soal nutrisi dan angka adalah kedekatan fisik.

Proses itu, katanya, sudah dimulai sejak jam-jam pertama kehidupan lewat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) momen ketika bayi yang baru lahir diletakkan di dada ibunya, dibiarkan mencari sendiri puting ibunya, selama kurang lebih satu jam pertama, tanpa terburu-buru.

"Kita boleh saja membeli susu formula dengan harga satu juta rupiah per kaleng. Tetapi pelukan seorang ibu tidak bisa dibeli," ujarnya. Bagi ibu yang karena keterbatasan tertentu tetap harus memberikan susu formula, dr Nanan berpesan agar kedekatan fisik jangan sampai ikut hilang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
pemberian asi eksklusif asi eksklusif Pekan ASI fasilitas umum ruang laktasi