Bukan Cuma Soal Gizi, ASI Jauh Lebih Unggul dari Susu Formula

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50 WIB
PRIORITAS: ASI memiliki banyak keunggulan dibandingkan susu formula, sehingga banyak perempuan memilih tetap memerah susu meski sedang bekerja.
PRIORITAS: ASI memiliki banyak keunggulan dibandingkan susu formula, sehingga banyak perempuan memilih tetap memerah susu meski sedang bekerja.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sebungkus susu formula seharga puluhan hingga ratusan ribu rupiah itu menyimpan cerita panjang sebelum sampai ke perut bayi. Mulai dari pengeringan susu sapi di pabrik, penambahan vitamin dan mineral, sampai proses distribusi yang menempuh jarak jauh. Semua itu meninggalkan jejak karbon. ASI, sebaliknya, tidak.

"Susu formula diproduksi di pabrik. Proses produksinya menghasilkan asap, menghasilkan karbon dan memberikan dampak terhadap lingkungan. Sedangkan ASI sendiri tidak memiliki dampak terhadap lingkungan," kata dr Nanan Surya Perdana, SpA, konselor menyusui yang telah menekuni bidangnya sejak 2014.

Klaim itu bukan sekadar slogan Pekan ASI Sedunia. Menurut dr Nanan, semakin banyak ibu menyusui, semakin sedikit pula limbah kemasan dan emisi transportasi yang dihasilkan dari rantai produksi susu formula.

"Mengurangi limbah, mengurangi sampah, mengurangi kebutuhan kendaraan untuk mengangkut produk-produk tersebut. Secara sederhana semua proses itu membutuhkan energi. Menggunakan energi berarti menghasilkan emisi," ujarnya.

Baca Juga: Warm Chain yang Belum Utuh, Ketersedaiaan Ruang Laktasi Belum Sesuai Harapan

Namun urusan ASI versus susu formula, kata dr Nanan, tidak berhenti di soal lingkungan saja. Dari sisi kesehatan, ia menyebut susu formula (yang pada dasarnya adalah susu sapi yang dimodifikasi) tidak selalu cocok untuk semua bayi.

"Ada yang mengalami alergi. Ada yang mengalami asma. Ada yang diare. Ada yang buang air besarnya keras atau sembelit," katanya. Sejumlah penelitian, tambahnya, turut mengaitkan konsumsi susu formula dengan risiko obesitas pada anak, sementara masyarakat Indonesia sendiri disebutnya cenderung lebih rentan mengalami intoleransi laktosa dibanding bangsa lain.

Soal iklan susu formula yang wara-wiri di televisi dan media sosial, dr Nanan punya kritik tersendiri. "Kalau melihat iklan, yang ditonjolkan selalu, anak nantinya akan lebih cerdas, lebih tinggi, lebih kreatif. Tetapi kita tidak pernah diberi informasi mengenai sisi lainnya," katanya.

Padahal, menurutnya, susu formula termasuk kategori Ultra Processed Food (UPF) (sekelas mi instan atau nugget) karena melalui proses pengeringan susu sapi serta penambahan berbagai vitamin, mineral dan formula tambahan lainnya.

Baca Juga: Harga Semen di Sumut Melonjak 40 Persen, KPPU Telusuri Rantai Distribusi

Di luar soal gizi dan lingkungan, dr Nanan mengingatkan ada satu hal yang menurutnya sering terlewat yakni kedekatan emosional atau bonding antara ibu dan anak, yang baru terlihat dampaknya belasan hingga puluhan tahun kemudian. Proses itu, katanya, idealnya sudah dimulai sejak Inisiasi Menyusu Dini (IMD), satu jam pertama setelah bayi lahir.

Soal daun katuk, daun kelor, atau susu almond yang dipercaya memperbanyak ASI, dr Nanan justru punya pandangan berbeda dari mitos yang beredar di masyarakat. Hanya sebagian kecil yang benar-benar terbukti secara ilmiah, katanya, sementara sisanya lebih banyak bekerja lewat sugesti.

"Yang paling utama adalah support system," ujarnya, merujuk pada dukungan keluarga sebagai faktor yang menurutnya jauh lebih berpengaruh dibanding suplemen semahal apa pun.

Meski begitu, dr Nanan menegaskan susu formula bukan barang berbahaya. Pemberiannya tetap diperbolehkan, asal lewat konsultasi terlebih dahulu ke tenaga kesehatan untuk memastikan penyebab pasti kebutuhannya. "Susu formula tetap boleh diberikan. Tetapi harus melalui konsultasi terlebih dahulu," tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
ASI vs susu formula manfaat ASI keunggulan ASI asi asi eksklusif