KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Air susu ibu tidak membutuhkan pabrik, kemasan, maupun kendaraan distribusi yang artinya tak menghasilkan emisi karbon. Karena itu, menyusui bukan hanya berkaitan dengan kesehatan bayi, tetapi juga memiliki kaitan dengan keberlanjutan lingkungan.
Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A mengatakan ASI memiliki zero carbon footprint. Berbeda dengan susu formula yang membutuhkan rangkaian proses produksi sebelum sampai ke tangan konsumen.
“Susu formula diproduksi di pabrik. Proses produksinya menghasilkan asap, menghasilkan karbon, dan memberikan dampak terhadap lingkungan. Sedangkan ASI sendiri tidak memiliki dampak terhadap lingkungan,” kata Nanan.
Menurut dia, proses produksi hingga distribusi produk membutuhkan energi. Penggunaan energi tersebut menghasilkan emisi. Produk yang telah sampai ke konsumen juga menghasilkan limbah dari kemasan.
Baca Juga: Warm Chain yang Belum Utuh, Ketersedaiaan Ruang Laktasi Belum Sesuai Harapan
“Semakin banyak ibu yang menyusui di Indonesia maupun di dunia, maka pencemaran lingkungan juga akan semakin rendah,” ujarnya.
Nanan mengatakan pesan mengenai dampak lingkungan dari menyusui menjadi salah satu hal yang ingin diperkenalkan dalam Pekan ASI Sedunia 2026.
Ia menyebut persoalan menyusui selama ini lebih banyak dilihat dari sisi kesehatan ibu dan bayi. Padahal, pilihan pemberian makanan pada awal kehidupan juga berkaitan dengan penggunaan sumber daya dan timbulan sampah.
Tema Pekan ASI Sedunia 2026, “Breastfeeding for a Sustainable Start in Life: Strengthen What Works”, turut menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari pembahasan mengenai menyusui.
Baca Juga: Tak Sediakan Ruang Laktasi, Perusahaan di Kaltim Bisa Ditegur Disnaker
Dengan demikian, menurut Nanan, dukungan terhadap ibu menyusui tidak hanya berdampak pada kesehatan keluarga. Dukungan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi jejak lingkungan sejak awal kehidupan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo