KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tangisan bayi di awal-awal kehidupannya kerap membuat ibu baru panik. Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul ialah produksi ASI dianggap tidak mencukupi. Padahal, tangisan bayi tidak otomatis menunjukkan bayi kekurangan ASI.
Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A mengatakan keluhan merasa ASI tidak cukup merupakan salah satu persoalan yang paling sering ia temui selama mendampingi ibu menyusui.
“Begitu bayinya menangis, ibu langsung berpikir, ‘Berarti ASI saya kurang.’ Padahal sebenarnya setiap bayi yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa sudah disiapkan kecukupan ASI sesuai kebutuhannya,” kata Nanan.
Menurut dia, proses menyusui bahkan sudah dapat dimulai sejak satu jam pertama kehidupan bayi melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Setelah lahir, bayi diletakkan di dada ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting untuk mulai menyusu. “Begitu bayi lahir, langsung diletakkan di dada ibunya. Biarkan bayi mencari sendiri puting ibunya,” ujarnya.
Baca Juga: Warm Chain yang Belum Utuh, Ketersedaiaan Ruang Laktasi Belum Sesuai Harapan
Nanan mengatakan orang tua juga tidak perlu terpaku pada jadwal menyusui setiap dua atau tiga jam. Setelah masa awal kelahiran, ibu perlu belajar mengenali tanda-tanda ketika bayi membutuhkan ASI, seperti mulai mengisap tangan, gelisah, merintih atau menggerakkan kaki.
“Tidak ada aturan harus dua jam sekali. Tidak harus tiga jam sekali,” katanya.
Ukuran lambung bayi pada hari-hari pertama juga masih sangat kecil. “Kalau bayi baru berumur satu hari, ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng. Pada usia tiga hari kira-kira sebesar bola bekel. Ketika berusia sekitar sepuluh hari, baru sebesar bola tenis meja,” ujarnya.
Karena itu, tangisan bayi tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran bahwa ASI ibu tidak cukup. Kekhawatiran juga dapat muncul ketika keluarga membandingkan berat badan bayi dengan anak lain dan kemudian mendorong pemberian susu formula.
Baca Juga: Bukan Sekadar Ruangan, Begini Ruang Laktasi yang Ideal untuk Ibu Menyusui
Nanan mengatakan kecukupan ASI seharusnya dilihat dari pertumbuhan bayi. Orang tua dapat memantau grafik berat badan melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) saat membawa anak ke posyandu, puskesmas atau dokter. “Bayi tidak harus gemuk. Yang penting kenaikan berat badannya sesuai,” ujarnya.
Selain merasa ASI kurang, dua keluhan lain yang sering dialami ibu ialah puting lecet dan kekhawatiran berat badan bayi tidak naik. Karena itu, menurut Nanan, ibu sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan memberikan susu formula sebelum mengetahui penyebab sebenarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo