Tak Semua Bayi Cocok dengan Susu Formula, Respons Tubuh Bisa Berbeda

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:28 WIB
EDUKASI: Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A menjelaskan perbedaan respons tubuh bayi terhadap susu formula. (Nasya/KP)
EDUKASI: Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A menjelaskan perbedaan respons tubuh bayi terhadap susu formula. (Nasya/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Susu formula tidak otomatis cocok untuk setiap bayi. Produk yang umumnya berbahan dasar susu sapi tersebut telah dimodifikasi agar dapat dikonsumsi manusia. Namun, respons tubuh setiap anak terhadap susu formula dapat berbeda.

Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A mengatakan dalam praktiknya ada anak yang dapat mengonsumsi susu formula tanpa masalah. Namun, sebagian lainnya mengalami alergi maupun gangguan pencernaan.

“Susu formula pada dasarnya adalah susu sapi. Susu ibu untuk bayi manusia. Susu sapi untuk anak sapi. Kemudian diproses sedemikian rupa agar bisa diminum manusia,” kata Nanan.

Baca Juga: “Pelukan Itu Tidak Bisa Dibeli”: Ketika Menyusui Bukan Sekadar Soal ASI

Ia mengibaratkan respons tubuh terhadap formula seperti penggunaan bulu mata atau gigi palsu. Ada orang yang dapat menggunakannya tanpa masalah, sementara sebagian lainnya mengalami reaksi tertentu.

“Tidak semuanya memberikan respons yang sama. Ada yang mengalami alergi. Ada yang mengalami asma. Ada yang diare. Ada yang buang air besarnya keras atau sembelit,” ujarnya.

Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah kemampuan tubuh mencerna laktosa, gula yang terdapat dalam susu. Kemampuan tersebut berkaitan dengan enzim laktase. Pada sebagian besar manusia, produksi laktase menurun setelah masa penyapihan.

Namun, sebagian populasi memiliki kemampuan genetik untuk mempertahankan produksi laktase hingga dewasa, yang dikenal sebagai lactase persistence.

Baca Juga: Susu Formula Bukan Musuh, tetapi Bukan Juga Jadi Jawaban

Kajian mengenai malabsorpsi laktosa menunjukkan kemampuan mempertahankan laktase berbeda antar-populasi. Dalam salah satu tinjauan ilmiah, lactase persistence dilaporkan tinggi pada sebagian besar populasi Eropa Utara, tetapi ditemukan pada kurang dari 10 persen orang dewasa di Asia Tenggara.

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa keluhan setelah mengonsumsi produk berbasis susu dapat lebih banyak ditemukan pada populasi Asia. Namun, intoleransi laktosa tidak berarti seseorang sama sekali tidak dapat mengonsumsi produk susu. Gejala dan tingkat toleransinya berbeda pada setiap orang.

Dia mengatakan bayi yang memiliki gangguan setelah mengonsumsi susu formula perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya. Gangguan pencernaan, misalnya, tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat intoleransi laktosa tanpa pemeriksaan.

“Tidak semua sistem pencernaan manusia cocok. Ada yang mengalami diare. Ada yang tidak memiliki enzim yang cukup untuk mencerna laktosa,” katanya.

Menurut dr. Nanan, sejumlah penelitian juga pernah menghubungkan penggunaan susu formula dengan berbagai gangguan kesehatan. Namun, ia menegaskan hubungan tersebut tidak berarti setiap anak yang mengonsumsi formula akan mengalami gangguan tertentu.

Selain kesehatan fisik, Nanan mengingatkan orang tua tidak melupakan kedekatan emosional dengan anak. Ibu bekerja yang pada siang hari memberikan ASI perah atau, dalam kondisi tertentu, susu formula tetap perlu menyediakan waktu untuk memeluk dan berinteraksi dengan bayinya.

“Pelukan itu penting. Kasih sayang itu dibangun dalam waktu yang panjang. Tidak bisa hanya sebentar,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
bayi tidak cocok susu formula alergi susu formula efek susu formula gangguan pencernaan bayi susu formula bayi