Mitos Menyusui yang Perku Diluruskan, dari Minum Es hingga ‘Buyu’

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:32 WIB
LURUSKAN MITOS: Sejumlah anggapan tentang mitos-mitos ASI, perlu diluruskan agar tidak membuat ibu mengambil keputusan secara terburu-buru. (Ilustrasi)
LURUSKAN MITOS: Sejumlah anggapan tentang mitos-mitos ASI, perlu diluruskan agar tidak membuat ibu mengambil keputusan secara terburu-buru. (Ilustrasi)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Segelas es, sambal, hingga buah beraroma seperti durian masih kerap dianggap sebagai pantangan bagi ibu menyusui. Pesan semacam itu tidak hanya datang dari media sosial, tetapi juga dari keluarga terdekat seperti orang tua maupun mertua.

Konselor menyusui dr. Nanan Surya Perdana, Sp.A mengatakan berbagai mitos tersebut dapat menjadi hambatan psikologis bagi ibu selama menyusui.

“Kita sudah kenal media digital sedemikian familiarnya dengan kehidupan kita, tapi masih saja kakek nenek, bapak mertua, ibu mertua yang menyampaikan pesan-pesan enggak boleh ini, enggak boleh makan ini, enggak boleh makan itu,” kata Nanan.

Salah satu mitos yang sering beredar ialah ibu menyusui tidak boleh minum es karena dikhawatirkan membuat bayi bisa pilek atau flu. Menurut Nanan, anggapan tersebut tidak benar. Air yang diminum ibu membutuhkan proses perjalanan hingga dapat menjadi bagian dari ASI sehingga suhu minuman tidak serta-merta membuat ASI menjadi dingin.

Baca Juga: Tak Semua Bayi Cocok dengan Susu Formula, Respons Tubuh Bisa Berbeda

“Air es yang diminum oleh ibu itu membutuhkan perjalanan cukup lama hingga sampai ke payudara ibu. Jadi sudah hangat. Tidak lagi dingin,” ujarnya.

Pantangan lain berkaitan dengan makanan pedas. Nanan mengatakan ibu masih dapat mengonsumsi cabai dalam jumlah terbatas. Namun, konsumsi berlebihan dapat memengaruhi kondisi pencernaan sebagian bayi.

Hal serupa berlaku untuk makanan beraroma kuat. Nanan menyebut konsumsi makanan seperti durian atau kopi dikhawatirkan mengubah aroma dan rasa ASI sehingga pada sebagian bayi dapat membuat mereka menolak menyusu.

Di Kalimantan, terdapat pula kepercayaan yang dikenal sebagai “buyu”. Bayi yang tetap menyusu kepada ibunya dianggap akan menjadi kurus, sedangkan susu formula dipercaya membuat bayi lebih gemuk.

Baca Juga: “Pelukan Itu Tidak Bisa Dibeli”: Ketika Menyusui Bukan Sekadar Soal ASI

Menurut Nanan, anggapan tersebut dapat membuat bayi dijauhkan dari ASI, padahal bayi yang sulit menyusu atau berat badannya tidak bertambah bisa saja mengalami masalah pada rongga mulut.

Ia menyebut kondisi seperti tongue-tie atau tali lidah yang terlalu pendek dapat membuat bayi kesulitan melekat pada payudara. Akibatnya, ASI yang didapat tidak optimal dan berat badan bayi sulit bertambah.

“Kalau tongue-tie, tali lidah yang di bawah itu terlalu pendek sehingga bayinya enggak bisa menetek bagus pada ibunya,” katanya.

Menurut Nanan, kondisi tersebut dapat ditangani secara medis oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Karena itu, ia mengingatkan orang tua tidak terburu-buru mengikuti ritual atau tindakan berdasarkan kepercayaan yang belum terbukti.

“Jangan ujug-ujug langsung melakukan hal-hal yang mungkin bisa merugikan anak,” ujarnya. Jika bayi mengalami kesulitan menyusu atau berat badan tidak bertambah, orang tua disarankan berkonsultasi kepada dokter anak atau konselor menyusui.

Menurut Nanan, layanan konsultasi daring juga dapat menjadi alternatif untuk memperoleh informasi yang tepat. Di tengah derasnya informasi mengenai menyusui, ia meminta keluarga tidak sekadar menyampaikan nasihat berdasarkan pengalaman masa lalu.

Baca Juga: Susu Formula Bukan Musuh, tetapi Bukan Juga Jadi Jawaban

Informasi tersebut sebaiknya dikonfirmasi kepada tenaga kesehatan agar tidak justru membuat ibu cemas atau menghentikan proses menyusui. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
mitos menyusui mitos ASI minum es saat menyusui asi eksklusif ibu menyusui