KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Diabetes tak selalu datang bersama uban. Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Sekolastika Indriaty Sundari Sasongko bahkan pernah menangani pasien yang masih duduk di bangku SMA. Ada pula pasien berusia sekitar 25 tahun yang sudah ditemukan mengalami gangguan terkait diabetes.
Menurut dokter yang karib disapa Indri itu, perubahan itu tak lepas dari pola hidup masyarakat. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula berjalan beriringan dengan aktivitas fisik yang semakin minim.
Baca Juga: 20 Pantun Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 yang Sarat Makna dan Menyejukkan Hati
“Karena memang sekarang itu sudah makanan ya, pola hidup, belum lagi sedentary life yang malas gerak karena handphone itu,” ujar dokter yang praktik di Rumah Sakit Hermina dan Primecare Samarinda tersebut.
Tubuh yang jarang bergerak membuat otot lebih sedikit menggunakan glukosa. Padahal, otot merupakan salah satu jaringan utama yang menggunakan gula sebagai sumber energi. “Pada orang yang masa ototnya besar sekali, kalau otot rangkanya besar, otot besar itu yang memakan glukosa itu besar,” jelas Indri.
Oleh sebab itu, aktivitas fisik dan menjaga massa otot menjadi bagian penting dalam pengendalian risiko diabetes. Terlebih setelah usia 40 tahun, massa otot perlahan dapat berkurang atau mengalami sarkopenia.
Baca Juga: ENR Resmi Tersangka, Indikasi Narkoba Didalami usai Tabrak Korban hingga Tewas saat Mabuk
Indri menyebut kebutuhan protein sekitar 1-1,2 gram per kilogram berat badan. Namun, konsumsi protein masyarakat masih kerap kurang, sementara asupan karbohidrat justru berlebihan.
“Jadi pengobatan gula diabetes itu tergantung juga dengan status gizinya orang ini. Sementara orang Indonesia rata-rata konsumsi protein kurang,” sambungnya.
Perjalanan diabetes sendiri tidak terjadi seketika. Ada fase resistensi insulin yang dapat berlanjut menjadi prediabetes, kemudian diabetes. Tanda resistensi insulin bahkan dapat terlihat dari perubahan kulit seperti penghitaman di leher dan lipatan tubuh atau acanthosis nigricans.
Pada fase awal itulah perubahan gaya hidup menjadi penting. Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa dan dapat memperlambat perjalanan penyakit.
Baca Juga: 35 Spanduk Maulid Nabi 2026: Tinggal Edit Sesuaikan Kegiatan, Memperkuat Suasana Peringatan
“Perkara-perkara orang ini cepat atau tidak jatuh ke insulin tergantung ototnya gimana, exercise-nya gimana, makannya gimana, pola hidupnya seperti apa,” tutur Indri.
Jadi, diabetes tidak selalu dimulai dari usia. Kadang, dimulai dari kebiasaan. Dia mengimbau untuk masyarakat memerhatikan konsumsi gula dan perbaiki pola hidup. (*)
Editor : Dwi Restu A