Apa yang Terjadi pada Vagina saat Menopause? Ini Perubahan yang Perlu Dipahami Bukan Ditakuti

Almasrifah • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:53 WIB
Ilustrasi, kenali fase menopause pada wanita. (canva.com)
Ilustrasi, kenali fase menopause pada wanita. (canva.com)

KALTIMPOST.ID, Menopause bukan hanya menandai berakhirnya menstruasi. Perubahan hormon pada fase ini juga dapat memengaruhi kondisi vagina, vulva, hingga saluran kemih.

Penurunan kadar estrogen membuat jaringan di area tersebut mengalami perubahan yang pada sebagian perempuan menimbulkan keluhan cukup mengganggu.

Kondisi ini dalam istilah medis dikenal sebagai genitourinary syndrome of menopause (GSM).

Estrogen Menurun, Jaringan Vagina Ikut Berubah

Ketika produksi estrogen menurun, lapisan vagina dapat menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis.

Baca Juga: Kemarau Panjang Bikin Tubuh Rentan! Suplemen Bukan Jalan Pintas, Ini 3 Cara Tingkatkan Imunitas

Produksi pelumas alami juga berkurang sehingga jaringan lebih mudah mengalami iritasi. Perubahan tersebut tidak dialami dengan tingkat keparahan yang sama oleh setiap perempuan.

Ada yang hampir tidak merasakan gejala, sementara lainnya mengalami kekeringan, rasa terbakar, gatal, atau nyeri pada area genital.

Hubungan Intim Bisa Terasa Lebih Nyeri

Berkurangnya kelembapan dan elastisitas vagina dapat membuat hubungan seksual terasa tidak nyaman atau bahkan menyakitkan.

Dalam dunia medis, nyeri ketika berhubungan seksual disebut dispareunia. Gesekan pada jaringan yang lebih tipis dan kering juga dapat memicu iritasi.

Kondisi ini pada akhirnya bisa memengaruhi kepuasan seksual dan kualitas hidup.

Keluhan Bisa Menjalar ke Saluran Kemih

Perubahan akibat menopause tidak hanya terjadi pada vagina. Jaringan di sekitar vulva dan uretra juga dapat terpengaruh.

Akibatnya, sebagian perempuan mengalami rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil, lebih sering ingin buang air kecil, sulit menahan keinginan buang air kecil, serta lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih.

GSM juga berbeda dari infeksi vagina biasa. Keluhan seperti gatal, rasa terbakar, atau keputihan tidak selalu berarti infeksi.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Asap Karhutla! Ini 6 Tanda Tubuh Sudah Kewalahan dan Cara Mengantisipasi

Karena penyebabnya dapat beragam, pemeriksaan dokter diperlukan apabila gejala menetap, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kekeringan Vagina Bisa Ditangani

Keluhan ringan dapat dibantu dengan pelembap vagina yang digunakan secara rutin dan pelumas saat berhubungan seksual.

Jika gejala tetap mengganggu, dokter dapat mempertimbangkan terapi estrogen vagina dosis rendah.

Terapi ini bekerja terutama pada jaringan vagina dan digunakan untuk membantu mengurangi kekeringan serta memperbaiki kondisi jaringan.

Pedoman klinis terbaru juga menempatkan estrogen vagina sebagai salah satu pilihan penting untuk menangani gejala genitourinari akibat menopause.

The Menopause Society mencatat, pedoman American Urological Association 2025 secara khusus membahas evaluasi dan pengobatan GSM.

Baca Juga: Penderita Asam Urat Wajib Tahu, Ini 5 Buah yang Aman Dikonsumsi

Sementara itu, NICE menyebut estrogen vagina sebagai salah satu terapi untuk keluhan genitourinari menopause.

Dengan demikian, perubahan pada vagina saat menopause merupakan konsekuensi biologis yang berkaitan erat dengan penurunan hormon, bukan sesuatu yang harus ditanggung tanpa penanganan. (*)

Editor : Almasrifah
vagina genitourinary syndrome of menopause estrogen elastisitas vagina menopause