KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Kombinasi pola hidup modern dan paparan lingkungan memicu gangguan fungsi sel secara signifikan, yang berujung pada percepatan penuaan biologis (biological aging). Hal ini diungkapkan oleh pakar kedokteran fungsional asal Pennsylvania, Amerika Serikat, Dr. Will Cole.
Menurut Cole, meski struktur genetika manusia tidak banyak berubah selama ribuan tahun, lingkungan hidup berubah drastis dalam waktu singkat. Ketidaksesuaian ini menciptakan fenomena di mana usia sel seseorang jauh lebih tua dibanding usia kronologisnya.
"Banyak orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an memiliki sel seperti orang lanjut usia. Hal itu umum terjadi, tetapi bukan sesuatu yang normal," tegas Cole.
Gangguan ini memicu apa yang disebut cellular noise (kebisingan seluler), yang merusak komunikasi antarsel dan memicu penyakit. Cole mengidentifikasi tiga pemicu utamanya:
-
Pola dan Jam Makan Tak Teratur: Konsumsi makanan pemicu peradangan serta kebiasaan makan sepanjang hari tanpa jeda puasa mengganggu balans alami perbaikan sel.
-
Racun Lingkungan dan Cahaya Biru: Paparan pestisida, herbisida (forever chemicals), hingga pancaran blue light layar elektronik di malam hari merusak ritme sirkadian dan fungsi organ.
-
Stres Kronis dan Isolasi Sosial: Stres berkepanjangan serta kurangnya interaksi sosial meningkatkan penanda peradangan (inflammatory markers) dalam tubuh.
Untuk meredam kerusakan sel, Cole mengimbau masyarakat untuk menjaga keseimbangan fisik, emosional, dan spiritual. Langkah sederhana seperti konsistensi jadwal tidur, mendapat paparan sinar matahari siang, serta aktif dalam kegiatan komunitas terbukti membantu tubuh memperbaiki sel-selnya kembali.(*)
Editor : Thomas Priyandoko