Kenali Tanda Gangguan Kesehatan Jiwa, Jangan Tunggu Krisis, Lakukan Skrining Sejak Dini

Ari Arief • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 10:39 WIB
Ilustrasi gangguan jiwa.(generate ai)
Ilustrasi gangguan jiwa.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Gangguan kesehatan jiwa masih menjadi tantangan kesehatan global yang masif, namun kerap tak disadari. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Profesor Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, sekitar satu dari tujuh orang di dunia saat ini hidup dengan gangguan jiwa.

"Angka ini lebih besar dari kasus diabetes, yang mana di dunia angkanya satu dari delapan orang," kata Dante dalam Media Briefing Kesehatan Jiwa di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta, yang dipantau secara daring, pekan tadi.

Dante menjelaskan, masalah kejiwaan tidak mengenal usia, jenis kelamin, maupun status ekonomi. Seseorang yang dari luar tampak sehat dan rutin beraktivitas sehari-hari bisa saja sedang berjuang dengan masalah kejiwaan. Berdasarkan data WHO, prevalensi pada perempuan mencapai 14,38 persen dari total populasi perempuan dunia, sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berada di angka 13 persen.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi orang di sekitar, terutama jika gejala berlangsung konsisten selama lebih dari dua minggu. Indikasi awal umumnya muncul melalui tiga bentuk perubahan:

  • Fisik: Perubahan pola tidur dan nafsu makan, perubahan berat badan signifikan, serta keluhan fisik berulang tanpa sebab medis yang jelas.

  • Emosi: Perubahan suasana hati secara drastis, cemas berlebihan atau merasa hampa, hingga kehilangan minat pada hobi yang biasa dinikmati.

  • Perilaku: Menarik diri dari lingkungan sosial, penurunan konsentrasi dan performa kerja/akademik, serta perubahan pola bicara.

Dante menekankan pentingnya intervensi cepat sebelum kondisi memburuk. "Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis," tegasnya.

Pemerintah terus memperkuat upaya deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari pelaksanaan CKG sejauh ini, tercatat sekitar 35.000 anak (1,08 persen) teridentifikasi mengalami gangguan jiwa. Sementara pada kelompok dewasa, ditemukan sekitar 186.000 orang mengidap depresi dan kecemasan.

Selain CKG, masyarakat dapat melakukan skrining mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT memanfaatkan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20) untuk mengenali kondisi diri dan menentukan kebutuhan konsultasi ke tenaga medis.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
jiwa skrining fisik kesehatan