KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Berat badan yang tak kunjung turun meski sudah memangkas porsi makan dan rutin berolahraga sering kali dianggap akibat kurang disiplin. Namun, dari sudut pandang medis, kondisi tersebut tidak sesederhana masalah pola makan. Obesitas ditegaskan sebagai penyakit kronis kompleks (obesity is a disease) yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, menjelaskan bahwa persepsi publik yang menilai obesitas semata-mata karena terlalu banyak makan harus diubah.
Baca Juga: Selamat Jalan Pak Mustaqim, Sosok Birokrat Senior yang Mewarnai Sejarah PPU
"Kalau dulu kita hanya mengenal obesitas karena makan terlalu banyak, sekarang kita tahu penyebabnya jauh lebih kompleks. Obesitas merupakan penyakit kronis yang bersifat multifaktorial," ujar dr. Erwin.
Ia membeberkan, mekanisme obesitas dapat dipicu oleh faktor genetik, gangguan hormonal, regulasi fungsi otak dalam mengatur rasa lapar dan kenyang, kondisi psikologis atau stres, kualitas tidur, hingga efek samping obat-obatan tertentu. Interaksi berbagai faktor ini membuat metabolisme setiap individu mengolah zat gizi dan menyimpan lemak dengan cara yang berbeda.
Baca Juga: Resmi Dirilis! iPhone Duo Dijual Rp 35 Juta, Ini Bedanya dengan Seri iPhone 18 Pro
Di Indonesia, ancaman obesitas kian nyata. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat hampir satu dari empat orang dewasa di Tanah Air mengalami obesitas. Kondisi ini berikatan erat dengan peningkatan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus tipe 2, gangguan kardiovaskular, hingga kanker.
Guna mendeteksi risiko, masyarakat diimbau memantau Indeks Massa Tubuh (BMI) sebagai langkah awal. Kendati demikian, BMI hanya berfungsi sebagai indikator skrining dasar, bukan penentu mutlak kondisi kesehatan.
Baca Juga: iPhone 18 Series dan iPhone Duo Segera Masuk Indonesia, Ini Buktinya!
dr. Erwin mengingatkan agar masyarakat waspada jika mengalami peningkatan berat badan atau lingkar perut secara konsisten dalam kurun dua hingga tiga bulan. Sinyal bahaya lain meliputi tubuh mudah lelah, nyeri lutut saat menaiki tangga, serta kualitas tidur yang buruk.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan mengikuti tren diet populer di media sosial. Sebab, pendekatan terapi gizi medis harus disesuaikan dengan kondisi metabolik dan komposisi tubuh masing-masing pasien.
Baca Juga: Kartu KEMAS Diluncurkan, Pelaku UMKM Anggota PEKKA Dapat Akses LPG 3 Kg
"Perubahan gaya hidup tetap menjadi fondasi utama. Namun pada kondisi tertentu, ketika metabolisme sudah mengalami gangguan, pasien mungkin membutuhkan terapi medis tambahan dari dokter spesialis gizi klinik," katanya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko