KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Kebiasaan tidur dengan lampu menyala ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan organ vital. Studi berskala besar terbaru yang dipublikasikan di European Heart Journal mengungkapkan bahwa paparan cahaya pada malam hari dapat mengubah struktur fisik sekaligus menurunkan fungsi pemompaan jantung.
Penelitian yang dipimpin Prof Lu Qi dari Tulane University, Amerika Serikat, memantau 11.071 peserta melalui pemindaian cardiac MRI. Hasilnya menunjukkan peserta yang terpapar cahaya malam lebih dari 3 lux mengalami penebalan dinding ventrikel kiri—ruang utama pemompa darah—sehingga rongga jantung menyempit.
Selain penyempitan rongga, otot jantung juga ditemukan kehilangan fleksibilitas saat berdenyut. Kondisi perubahan struktur dan fungsi akibat stres kronis ini dikenal sebagai cardiac remodeling, yang dalam jangka panjang dapat memicu timbulnya gagal jantung.
"Ini studi pertama yang membuktikan bahwa paparan cahaya malam tingkat tinggi berkaitan langsung dengan cardiac remodeling. Polusi cahaya kini resmi menjadi faktor risiko baru bagi penyakit kardiovaskular," ujar Lu Qi.
Rekomendasi bagi Pasien dan Pemerintah
Temuan ini direspon serius oleh praktisi medis. Prof Thomas Münzel dari University Medical Center Mainz, Jerman, mendorong para dokter untuk mulai mengevaluasi kualitas lingkungan tidur pasien, terutama yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Münzel menyarankan pasien melakukan langkah pencegahan mandiri yang terjangkau:
-
Menggunakan tirai kedap cahaya (blackout curtains).
-
Memilih lampu tidur berspektrum hangat.
-
Menutup lampu indikator LED pada perangkat elektronik di kamar tidur.
Dilihat dari sisi kesehatan publik, kajian ini juga mendesak pemerintah daerah membenahi penataan lampu jalanan. Penggunaan lampu berpenutup, bohlam spektrum hangat, hingga sistem peredupan otomatis dinilai menjadi strategi intervensi lingkungan yang murah untuk menekan risiko penyakit jantung warga kota.(*)