KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Lonjakan suhu dan kondisi cuaca kering sepanjang musim kemarau meningkatkan risiko dehidrasi bagi masyarakat. Warga diimbau tak menunggu munculnya rasa haus untuk mengonsumsi air minum, sebab rasa haus merupakan indikator akhir saat tubuh telah mengalami kekurangan cairan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS MMC, dr Raissa E Djuanda SpGK, menegaskan bahwa kecukupan cairan memegang peranan vital dalam menjaga suhu tubuh, sirkulasi darah, fungsi ginjal, hingga keseimbangan elektrolit. Mengabaikan gejala awal dehidrasi dapat berdampak buruk pada performa fisik hingga keselamatan jiwa.
"Cairan berperan penting bagi organ tubuh. Jika diabaikan, kekurangan cairan bisa menyebabkan pusing, penurunan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal, hingga penurunan kesadaran," ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Guna mencegah dampak buruk dehidrasi, Raissa membagikan sejumlah tanda klinis yang patut diwaspadai warga saat beraktivitas di cuaca panas:
-
Gejala Ringan hingga Sedang: Bibir dan mulut kering, sakit kepala, lemas, penurunan konsentrasi, warna urine pekat, serta berkurangnya frekuensi buang air kecil.
-
Gejala Berat: Pusing mendadak saat berdiri, jantung berdebar kencang, kebingungan (disorientasi), hingga pingsan.
Tips Cegah Dehidrasi di Musim Kemarau
Selain membiasakan minum air putih secara berkala tanpa menunggu haus, kecukupan cairan tubuh juga dapat dibantu melalui asupan harian. Raissa menyarankan masyarakat mengonsumsi buah dan sayuran kaya air seperti semangka, melon, jeruk, pir, mentimun, tomat, serta makanan berkuah.
Bagi warga yang beraktivitas berat di luar ruangan atau banyak berkeringat, penggunaan minuman berelektrolit serta pelindung terik matahari sangat dianjurkan.
"Warna urine juga bisa dijadikan indikator mandiri. Jika warnanya semakin pekat, itu sinyal kuat bahwa tubuh butuh tambahan pasokan cairan segera," katanya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko