Waspada GERD Intai Usia Dini, Pakar Beberkan Pemicu Gaya Hidup dan Solusi Terapi Asam Lambung

Agus Prayitno • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 18:08 WIB
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam (kedua kiri), Ketua PB PGI, mengungkap kasus GERD sudah menyerang anak usia 6 tahun akibat pola makan sejak dini. (Foto: Delis/KP)
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam (kedua kiri), Ketua PB PGI, mengungkap kasus GERD sudah menyerang anak usia 6 tahun akibat pola makan sejak dini. (Foto: Delis/KP)

KALTIMPOST.ID, Jakarta - Gangguan refluks gastroesofagus atau GERD kini tidak lagi identik sebagai keluhan kesehatan orang dewasa, melainkan mulai banyak ditemukan pada anak-anak hingga usia remaja.

Pergeseran tren penyakit asam lambung tersebut banyak dipicu oleh perubahan pola konsumsi harian serta kebiasaan hidup yang kurang tepat sejak usia dini.

Pemeriksaan endoskopi saluran cerna di fasilitas kesehatan rujukan bahkan menemukan kasus peradangan lambung telah terjadi pada pasien anak berusia enam tahun.

"Penyakit ini mulai kena pada anak-anak. Di RSCM, di pusat endoskopi saluran cerna itu endoskopi bersama-sama dengan dokter anak, kasus-kasus itu bahkan umur-umur enam tahun sudah kena," ungkap Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH, FACG, FACP, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), Jum'at (18/9).

Pola Makan Pemicu Pelemahan Katup Lambung

Pelemahan klep antara lambung dan kerongkongan pada usia belia kerap berakar dari konsumsi makanan tertentu secara berlebihan sejak kecil, seperti cokelat dan keju.

Baca Juga: ​Penyebab Laptop Cepat Panas Saat Penggunaan Ringan dan Cara Mengatasinya

Kebiasaan langsung merebahkan diri atau tidur sesaat setelah makan juga memperbesar risiko cairan asam lambung naik kembali ke saluran cerna bagian atas.

"Anak-anak itu dari kecil sudah mengonsumsi cokelat dan keju. Konsumsi cokelat dan keju itu menyebabkan pelemahan klep antara lambung dan esofagus, belum lagi kecenderungan orang tua sehabis memberi makan anaknya langsung disuruh tidur," terang Prof Ari.

Tren Kuliner Pedas Berlevel dan Porsi Berlebih

Memasuki usia remaja, risiko gangguan asam lambung kian meningkat seiring popularitas ragam jajanan bercita rasa pedas ekstrem yang memakai tingkatan level.

Selain itu, tren menyantap hidangan dalam jumlah masif seperti konsep makan sepuasnya (all you can eat) dalam durasi terbatas turut membebani kerja lambung secara mendadak.

"Usia-usia remaja sekarang memang lagi tren makanan pedas yang berlevel-level. Kemudian juga all you can eat, dalam waktu singkat lambung diisi makanan yang dibatasi dua jam sehingga lambung dilatasi dan berpotensi memicu refluks," beber Prof Ari.

Inovasi Penanganan Medis dan Gejala Luar Kerongkongan

Dalam penanganan klinis, pasien dengan keluhan sensasi dada terbakar (heartburn), mulut pahit, hingga mual kini mendapatkan pemantauan melalui sistem skor diagnostik yang ketat.

Baca Juga: Siklus 10 Tahunan Terulang: El Nino Parah Melanda Kaltim, Hujan Baru Turun Akhir Tahun?

Penelitian medis terbaru terus menguji efektivitas obat penekan asam lambung generasi mutakhir guna mempercepat pemulihan luka dinding lambung serta menekan keluhan mual lebih optimal dibanding terapi terdahulu seperti esomeprazole.

"Ternyata pasien-pasien itu angka mualnya lebih baik diobati dengan obat ini dibandingkan dengan esomeprazole. Artinya GERD diobati, mual karena sakit maag juga bisa teratasi," tandas sang dokter.

Refluks asam lambung yang tidak ditangani dengan baik berisiko menyebar ke area luar kerongkongan (ekstra-esofagus), menimbulkan komplikasi seperti batuk kronis menahun hingga suara serak.

Penerapan pola makan berimbang, pembatasan konsumsi pemicu iritasi, serta jeda waktu minimal dua jam sebelum berbaring menjadi kunci utama mencegah keparahan GERD pada generasi muda.

Editor : Agus Prayitno
obat asam lambung gerd asam lambung gaya hidup sehat