Jangan Salah Kaprah, Anak Pendek Tak Selalu Stunting, Bisa Jadi Gangguan Hormon

Ari Arief • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:19 WIB
Ilustrasi anak yang tampak tumbuh sehat dan ceriah.(ari arief/kp)
Ilustrasi seorang anak yang tampak tumbuh sehat dan ceria.(ari arief/kp)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Anak dengan perawakan pendek tidak selalu mengalami stunting. Orang tua diimbau tidak langsung menyimpulkan kondisi tersebut hanya sebagai akibat dari kekurangan nutrisi semata, sebab postur tubuh pendek pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor medis lainnya.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen. Meski demikian, gangguan pertumbuhan pada anak memiliki spektrum yang lebih luas, salah satunya adalah short stature atau perawakan pendek.

Baca Juga: Larangan Bakar Lahan dan Pentingnya Desakralisasi Hukum Adat

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, menjelaskan bahwa perawakan pendek memiliki latar belakang penyebab yang bervariasi.

"Selain faktor nutrisi, perawakan pendek juga dapat berkaitan dengan gangguan hormonal, kondisi genetik, hingga penyakit kronis," terang Prof. Aman, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global.

Baca Juga: Pulihkan Gaza, Board of Peace Besutan Trump Gelontorkan Rp 43,8 Triliun

Beberapa gangguan hormonal yang memicu kondisi ini meliputi Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme. Selain itu, faktor genetik seperti Sindrom Turner turut menjadi penyebab. Dalam beberapa kasus, ada pula kondisi Idiopathic Short Stature (ISS), di mana penyebab spesifik tidak ditemukan meski telah melalui evaluasi medis menyeluruh.

Oleh karena itu, Prof. Aman meminta orang tua tidak sekadar mengukur tinggi badan anak pada satu titik waktu, melainkan rutin memantau laju pertambahannya secara berkala.

Baca Juga: Jangan Diabaikan, Ini 9 Faktor Utama Penyebab Seal Mesin Motor Bocor

"Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan penanganan yang sesuai," tegasnya.

Dampak Psikososial dan Pentingnya Deteksi Dini

Pentingnya pemantauan rutin ini dirasakan oleh Merien Frentinia. Ia mendapati tinggi badan putrinya tertahan di angka 113 cm selama setahun penuh saat berusia tujuh tahun. Setelah diperiksakan ke dokter, anaknya didiagnosis mengalami GHD dan harus menjalani terapi hormon pertumbuhan.

Baca Juga: Kenali 8 Penyebab Paking Motor Rusak yang Bisa Memicu Kebocoran Mesin

Di samping masalah kesehatan fisik, gangguan pertumbuhan anak turut berdampak pada aspek psikososial. Anak yang bertubuh jauh lebih pendek dari teman sebayanya berisiko merasa minder, terisolasi, hingga menjadi sasaran perundungan (bullying).

Melihat krusialnya pemantauan tumbuh kembang ini, Presiden Direktur PT Merck, Tbk Evie Yulin menyampaikan bahwa pihaknya menghadirkan platform interaktif Takartinggi serta meluncurkan buku edukasi anak Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa.

Baca Juga: Kenali 8 Penyebab Paking Motor Rusak yang Bisa Memicu Kebocoran Mesin

"Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," kata Evie.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
pendek arka stunting nutrisi medis