KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Kasus penyakit influenza di Indonesia mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga minggu ke-36 tahun 2026 atau awal September menunjukkan, tingkat keterpaparan kasus influenza melonjak dari 35 persen pada minggu sebelumnya menjadi 46 persen.
Dari total kasus terdeteksi, porsi terbesar yakni sebanyak 42 persen mendera kelompok anak usia balita (0–4 tahun). Peningkatan tren ini membuat upaya pencegahan penularan, terutama pada anak-anak, menjadi perhatian mendesak.
Pengurus Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dr dr Anggraini Alam SpA Subsp IPT(K), mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele infeksi ini. Menurutnya, influenza kerap dikira batuk pilek biasa (common cold atau salesma), padahal berdampak jauh lebih berat.
"Influenza A merupakan tipe yang paling sering menginfeksi dan prevalensinya tercatat paling tinggi. Gejalanya memang bervariasi, namun yang khas adalah demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri badan," ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang akrab disapa Anggi ini.
Ia menambahkan, anak-anak yang memiliki faktor risiko kesehatan rentan mengalami komplikasi berat. Di antaranya radang paru (pneumonia), kekambuhan asma (eksaserbasi asma), radang otot jantung (miokarditis), hingga radang otak (ensefalopati).
Untuk mencegah dampak buruk, IDAI mengimbau orang tua memantau tiga parameter utama pada anak yang sedang sakit: activity (aktivitas), intake (asupan), dan output (pengeluaran cairan).
Dari sisi aktivitas, orang tua diminta waspada jika perilaku anak berubah drastis. Anak yang mendadak sangat lemas, enggan beraktivitas, atau lekas rewel perlu segera dievaluasi oleh tenaga medis.
Terkait asupan (intake), penurunan nafsu makan kerap terjadi, namun kecukupan cairan wajib dijaga guna mengantisipasi dehidrasi. Anggi menyarankan pemberian cairan bervariasi seperti air putih, sup, jus buah, atau minuman berkalori/berelektrolit.
Sementara dari aspek output, frekuensi buang air kecil (BAK) menjadi tolok ukur utama. "Untuk anak yang memakai popok, cek berkala tiap empat jam. Jika popok tetap kering, segera tambah asupan cairan dan langsung bawa anak berobat ke dokter," tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan menyeluruh, IDAI merekomendasikan enam langkah proteksi:
-
Memberikan vaksinasi influenza tahunan bagi anak dan seluruh anggota keluarga.
-
Menerapkan protokol kesehatan secara konsisten, mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, hingga menghindari kerumunan.
-
Mengenali gejala serta segera berkonsultasi ke dokter jika muncul tanda bahaya.
-
Membiarkan anak beristirahat di rumah (isolasi) dan tidak memaksakannya sekolah hingga minimal 24 jam bebas demam tanpa bantuan obat penurun panas.
-
Memenuhi kebutuhan cairan anak guna mencegah dehidrasi di tengah cuaca panas terik.
-
Memperkuat surveilans genomik dan akses tes RT-PCR untuk mengidentifikasi subtipe virus (termasuk subklad K) demi mendukung penanganan kasus dan formulasi vaksin.(*)