KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Peringatan penting bagi masyarakat luas: kanker payudara bukan hanya mengintai perempuan, tetapi juga bisa dialami oleh laki-laki. Meski kasusnya terbilang jarang, masyarakat imbau untuk tidak mengabaikan gejala seperti benjolan pada area dada laki-laki.
Deputy Medical Director & Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre (PCC) Singapura, dr. Khoo Kei Siong, mengungkapkan bahwa estimasi rasio kasus kanker payudara pada laki-laki berada di angka 1 berbanding 100 kasus.
"Dari sekitar 100 kasus kanker payudara, hanya sekitar satu kasus yang terjadi pada laki-laki. Sifat dan karakteristik kankernya pada dasarnya sama saja dengan perempuan, tergantung pada jenisnya, apakah itu tumor sensitif hormon atau HER2 positif. Terapinya pun akan mirip," kata dr. Khoo di sela-sela Media Gathering 20 Tahun PCC di Jakarta, Jumat (25/9).
Kondisi HER2 positif sendiri menandakan sel kanker memiliki kadar protein HER2 di atas normal, yang berpotensi memicu perkembangan sel kanker secara lebih cepat.
Meski risiko itu ada, pemeriksaan mamografi secara rutin tidak direkomendasikan untuk laki-laki. Selain angka kejadiannya yang relatif jauh lebih rendah, struktur jaringan payudara laki-laki yang cenderung kecil menyulitkan prosedur mamografi teknis standar. Namun, jika ditemukan massa, benjolan, atau perubahan fisik pada dada laki-laki, pemeriksaan medis lanjutan wajib segera dilakukan.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Khoo juga mengulas perbandingan efek samping dari metode pengobatan kanker modern saat ini:
-
Kemoterapi: Efek samping umum meliputi kerontokan rambut, lemas, mual, hilangnya nafsu makan, hingga penurunan sel darah. Keluhan mual usai kemoterapi kini semakin jarang terjadi berkat penggunaan obat antiemetik modern.
-
Imunoterapi: Efek sampingnya tidak seperti kemoterapi, melainkan lebih memicu reaksi peradangan pada organ tubuh tertentu, seperti kelenjar tiroid, sehingga memerlukan pendekatan deteksi dini yang berbeda.(*)