Balita Sering Tantrum? Bisa Jadi Akibat Kurang Tidur, Ini Panduan Penanganannya dari Ahli

Ari Arief • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 16:15 WIB
TANTRUM: Orang tua perlu mewaspadai empat tanda bayi tantrum.(kemenkes)
TANTRUM: Orang tua perlu mewaspadai empat tanda bayi tantrum.(kemenkes)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Orang tua kerap diuji oleh sikap balita yang mendadak emosional, menangis hebat, hingga tantrum. Meski kerap dianggap sebagai penolakan atau sikap pembangkang, ledakan emosi pada anak sering kali dipicu oleh kondisi fisik yang sederhana, yakni kurang tidur.

Fenomena tantrum sebenarnya merupakan bagian dari tahap perkembangan emosi balita yang belum matang. Namun, kondisi kurang tidur dan kelelahan berlebih (overtired) terbukti memperburuk daya tahan emosional anak.

Saat balita kelelahan, fungsi otak yang bertugas mengatur regulasi emosi dan kontrol diri tidak bekerja secara optimal. Akibatnya, anak menjadi lebih sensitif, mudah frustrasi, dan kewalahan menghadapi stimulasi kecil di sekitarnya.

Berdasarkan edukasi sehat yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, maka, untuk mengenali apakah tantrum anak dipicu oleh kelelahan, ada empat tanda utama yang dapat diperhatikan orang tua:

Jika anak sudah terlanjur mengalami tantrum akibat kelelahan, orang tua diimbau tidak panik atau memberikan penjelasan panjang lebar. Langkah utama yang perlu dilakukan adalah menerapkan co-regulation atau mendampingi anak hingga emosinya mereda secara mandiri.

Orang tua disarankan untuk tetap tenang, memvalidasi perasaan anak dengan kalimat singkat, mengurangi stimulasi di sekitar, serta menawarkan pelukan jika anak berkenan. Jika ledakan emosi terjadi menjelang jam tidur, segera sudahi aktivitas dan segerakan rutinitas tidur.

Guna mencegah munculnya tantrum akibat kelelahan, orang tua perlu memastikan kebutuhan tidur anak terpenuhi sesuai usianya dan menjaga konsistensi jadwal tidur. Selain itu, membangun bedtime routine—seperti mandi hangat, mengganti pakaian, dan membaca buku sebelum tidur—sangat efektif membantu memberikan sinyal pada otak anak bahwa waktu istirahat telah tiba.

Meski demikian, orang tua juga diminta tidak hanya berfokus pada durasi tidur, tetapi juga kualitasnya. Jika anak kerap terbangun di malam hari, mengalami gangguan pernapasan seperti mendengkur keras, atau tetap tampak lelah meski sudah tidur cukup, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
tantrum rewel ahli bayi