KALTIMPOST.ID,DEPOK–Memasuki musim pancaroba, penyakit seperti batuk, pilek, dan flu kerap mengintai masyarakat. Meski demikian, masyarakat dianjurkan tidak terburu-buru berobat ke dokter jika gejala yang dirasakan masih ringan dan belum menunjukkan tanda pemburukan.
Praktisi kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qoth’i, menjelaskan bahwa masyarakat dapat menerapkan perawatan mandiri (self care) dengan mempertimbangkan tiga aspek utama sebelum memutuskan ke fasilitas kesehatan, yakni durasi, jenis gejala, dan profil penderita.
Baca Juga: AS Siapkan 3 Kapal Induk di Timur Tengah, Trump Buka Opsi Serangan Baru ke Iran
"Kalau gejalanya baru berlangsung beberapa hari dan tidak ada pemburukan, sebetulnya tidak perlu khawatir berlebihan. Kondisi ini umumnya termasuk self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri," ujar dr. Ikhsan dalam acara media di Depok, Jawa Barat, Kamis (1/10).
Meski dapat sembuh secara alami, ia menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi obat simptomatik demi meredakan gejala yang mengganggu, diimbangi dengan istirahat cukup serta asupan nutrisi yang memadai.
Baca Juga: Dicap 'Wayang Jokowi', Listyo Sigit Dicopot Prabowo
Namun, dr. Ikhsan mengingatkan pentingnya mewaspadai tanda bahaya (red flags). Jika batuk dan pilek disertai napas sesak, bibir atau jemari membiru, tidak mau makan, hingga demam tinggi pada anak yang berisiko kejang, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit. Kelompok rentan seperti anak di bawah usia dua tahun, lansia, wanita hamil, dan orang dengan gangguan imunitas juga memerlukan perhatian medis lebih cepat.
Di sisi lain, pemilihan obat yang tepat selama perawatan mandiri turut menjadi sorotan. Pharmacist & Clinical Pharmacy Expert dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Dr. apt. Lucy Novianti, MM, mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membeli obat hanya berdasarkan pengalaman masa lalu tanpa berkonsultasi.
Baca Juga: Belgia vs Turki, Menanti Kolaborasi Lukaku dan De Bruyne
"Kadang pasien menganggap sudah biasa lalu membeli obat tanpa mau bertukar diskusi dengan apoteker. Padahal, meski gejalanya mirip, kondisi tubuh dan kebutuhan obatnya bisa berbeda. Obat yang tepat jika diberikan secara keliru tidak akan bekerja optimal," tegas Lucy.
Lucy dan dr. Ikhsan juga mengawasi tren masyarakat yang sering mengonsumsi berbagai jenis obat sekaligus agar cepat sembuh. Tindakan menumpuk obat tanpa aturan dosis justru berisiko memicu efek samping berat hingga bahaya toksisitas, di mana obat berubah menjadi racun bagi tubuh. Masyarakat diharapkan senantiasa aktif berdiskusi dengan apoteker di apotek terdekat guna memastikan efektivitas dan keamanan obat yang dikonsumsi.(*)
Editor : Thomas Priyandoko