KALTIMPOST.ID - Anggapan bahwa penurunan daya ingat atau yang disebut dengan pikun sebagai dapmak dari pertambahan usia kini terbantahkan oleh riset sains modern. Studi ilmiah terbaru membuktikan bahwa kemunduran daya ingat sebenarnya dipicu oleh pergeseran molekuler spesifik di dalam otak yang dapat dicegah dan diperbaiki.
Temuan krusial dari tim peneliti Virginia Tech ini membuka jalan baru bagi penanganan medis penyakit penurunan memori. Para ahli meyakini titik biologis ini bisa menjadi sasaran empuk pengembangan terapi terarah untuk mengobati kepikunan hingga demensia di masa depan.
"Penelitian ini menunjukkan penurunan ingatan terkait dengan perubahan molekuler spesifik yang bisa dipelajari dan ditargetkan," terang Timothy Jarome, profesor madya di Fakultas Ilmu Hewan, Pertanian, dan Ilmu Hayati Virginia Tech, seperti dilansir dari CNBC, Selasa (6/10).
Baca Juga: Kisah Perjalanan Karier Judika: Dari Tukang Semir Sepatu hingga Panggung FIFA ASEAN Cup 2026
Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam pada level molekuler adalah kunci utama untuk merancang metode pengobatan baru. Dengan mengurai biang kerok biologisnya, dunia kedokteran memiliki peluang besar menciptakan terapi presisi guna mencegah kepikunan permanen.
Fokus penelitian tersebut mengarah pada mekanisme molekuler bernama poliubikuitinasi K63, pengatur sirkulasi protein di dalam sel saraf otak. Bila proses ini berlangsung normal, jutaan neuron dapat saling bertukar sinyal dengan lancar sehingga daya ingat manusia terbentuk kokoh.
Masalah muncul seiring menua saat ritme biologis di dua bilik utama otak mengalami kekacauan. Aktivitas molekuler di hipokampus selaku pusat memori melonjak terlalu tinggi, sementara di amigdala yang menaungi ingatan emosional justru merosot drastis.
Menghadapi ketimpangan tersebut, para peneliti mengerahkan teknologi penyunting gen CRISPR untuk merestrukturisasi proses biologis yang bermasalah. Penyelarasan kembali aktivitas di kedua area otak itu terbukti ampuh mendongkrak kinerja ingatan secara nyata.
Baca Juga: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Ada 313 Pasal yang Wajib Diketahui Pekerja
Studi tim Jarome juga membidik gen krusial bernama IGF2 yang berfungsi penting dalam perakitan memori. Gen vital ini kerap mati suri akibat metilasi DNA, yakni menumpuknya penanda kimiawi yang memadamkan fungsi gen saat usia menua.
Menggunakan instrumen mutakhir CRISPR-dCas9, para ilmuwan berhasil menyalakan kembali gen IGF2 yang sempat nonaktif pada subjek uji coba berusia tua. Langkah ini membuahkan hasil luar biasa dengan pulihnya fungsi ingatan secara signifikan.
Kendati demikian, para ahli memberi catatan tebal bahwa terapi pengaktifan gen ini menuntut ketepatan waktu. Intervensi terbukti tidak memberi hasil berarti bila disuntikkan pada usia paruh baya yang fungsi otaknya masih prima.
"Ketika gen diaktifkan kembali, performa memori meningkat. Namun waktu intervensi sangat penting, harus dilakukan saat penurunan mulai terjadi," tegas Jarome.***
Editor : Dwi Puspitarini