KALTIMPOST.ID, Gigi berlubang kerap dianggap sebagai masalah kesehatan biasa yang baru ditangani ketika rasa sakit muncul. Padahal, kerusakan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi infeksi hingga abses.
Dalam kasus yang sangat jarang, infeksi dari gigi bahkan dapat menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk otak, dan menyebabkan abses otak yang membutuhkan penanganan medis segera.
Bermula dari Gigi yang Mengalami Infeksi
Menurut Cleveland Clinic, abses gigi merupakan kantong berisi nanah akibat infeksi bakteri, salah satunya karena gigi berlubang parah.
Ketika kerusakan mencapai pulpa atau jaringan terdalam gigi, bakteri dapat menyebar ke ujung akar dan jaringan sekitarnya. Jika tidak ditangani, infeksi dapat meluas ke tulang rahang serta jaringan wajah dan leher.
Infeksi tersebut dalam kondisi tertentu dapat mencapai otak, meski komplikasinya sangat jarang.
Baca Juga: Antisipasi Ancaman Wabah Pes dari Rusia, Kenali Gejala dan Langkah Pencegahannya
NHS menyebut abses gigi sebagai salah satu sumber yang dapat berkaitan dengan abses otak. Penyebaran tidak selalu terjadi secara langsung dari gigi ke otak, tetapi dapat melalui jaringan di sekitar kepala atau aliran darah.
Hubungan tersebut juga ditemukan dalam tinjauan sistematis yang diterbitkan di Archives of Oral Biology dan terindeks PubMed. Peneliti menelaah 81 artikel yang mencakup 135 kasus abses otak berkaitan dengan infeksi odontogenik.
Dalam 23 kasus, mikroorganisme pada infeksi gigi juga ditemukan pada abses otak. Namun, karena sebagian besar data berasal dari laporan kasus dan seri kasus, temuan ini tidak menunjukkan bahwa komplikasi tersebut umum terjadi.
Kenali Tanda Infeksi yang Perlu Diwaspadai
Gigi berlubang belum tentu berarti telah mengalami abses. Namun, sakit gigi berat, gusi merah atau bengkak, pembengkakan rahang atau wajah, demam, rasa pahit di mulut, gigi goyang, serta kesulitan membuka mulut dan mengunyah dapat menjadi tanda infeksi.
Rasa sakit yang tiba-tiba menghilang juga bukan selalu pertanda sembuh karena jaringan pulpa bisa mati sementara infeksi tetap berlangsung.
Jika infeksi sampai melibatkan otak, gejalanya dapat berupa sakit kepala berat, demam, mual dan muntah, kebingungan, gangguan bicara atau penglihatan, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, leher kaku hingga kejang.
Gejala tersebut, terutama jika muncul bersamaan dengan infeksi gigi, membutuhkan pertolongan medis segera karena abses otak dapat menyebabkan pembengkakan dan tekanan pada jaringan otak.
Baca Juga: Ancaman Eksim Kemarau di Musim Panas, Ini Langkah Penting Lindungi Kesehatan Kulit
Jangan Menunggu Infeksi Memburuk
Abses gigi tidak dianjurkan dibiarkan sembuh sendiri. NHS menjelaskan, penanganannya dapat berupa pengeluaran nanah, perawatan saluran akar atau pencabutan gigi sumber infeksi, sementara antibiotik dapat diberikan pada kondisi tertentu sesuai penilaian tenaga medis.
Pemeriksaan sejak awal penting untuk mencegah infeksi berkembang lebih jauh.
Karena itu, gigi berlubang sebaiknya tidak hanya diperiksa ketika rasa sakit sudah parah. Demam, pembengkakan wajah atau rahang, sulit menelan maupun membuka mulut menjadi alasan untuk segera mendapatkan pemeriksaan.
Jika muncul kebingungan, kejang, gangguan bicara, gangguan penglihatan atau kelemahan pada satu sisi tubuh, pertolongan darurat diperlukan.
Dengan demikian, gigi berlubang memang dapat menjadi sumber infeksi serius, tetapi penyebaran hingga ke otak merupakan komplikasi yang sangat jarang.
Risiko tersebut menjadi pengingat bahwa kerusakan gigi tidak sebaiknya diabaikan, terutama ketika sudah menunjukkan tanda-tanda infeksi. (*)
Editor : Almasrifah